Ada yang mengatakan kalau tulisan
saya belasan tahun yang lalu merupakan biang kerok yang menyebabkan saya tidak
bisa hidup di negeri sendiri. Saya
beberapa kali menulis dengan judul akronim tokoh besar kebanggaan saya, Bung
Karno, Jangan Sekali-sekali Melupakan Sejarah alias “Jas Merah”.
Semuanya saya anggap salah. Saya bisa hidup. Dan, pastinya di Indramayu, tanah air kecil
yang saya cintai.
Kata mereka, saya melawan
penguasa. Itulah sebabnya akan terus
selalu di-black list! Sampai-sampai karir
pun dibrangus!!!
Lagi-lagi, pernyataan itu pun salah
besar. Saya hanya berpendapat dan tidak
ingin ikut mendorong penguasa ke jurang.
Apalagi ikut-ikutan melempari beliau setelah jatuh. Tidak!
Tentu saja tidak ada di daftar hitam, buktinya, seperti orang lain SK
saya pun kertasnya putih kok.... Soal
karir pun, selalu disyukuri sekalipun lagi-lagi harus ‘kari’.... Itu kan cuma soal kecepatan berlari saja.
Hampir lima belas tahun lalu....
Ketika itu saya baru pulang ke
kampung halaman. Lama merantau, bukan
berarti saya buta dengan informasi tentang tanah air kecil. Termasuk pitutur tak tertulis yang tidak
dipelajari di bangku sekolah.
Saya menulis tentang Sungai
Cimanuk yang menjadi batas kekuasaan wilayah RA Wiralodra dengan babadan yang
digarap Nyi Endang Dharma. Pelabuhan
sungai yang besar dan telah ramai dikunjungi para pedagang sebelum kedatangan
RA Wiralodra.
Seiring berjalannya waktu Sungai
Cimanuk yang berada di sisi barat Pendopo (Kantor Bupati) Indramayu makin sepi. Lebih-lebih setelah Belanda membuat sodetan
Sungai Cimanuk yang menyebabkan debit air sungai besar itu makin
berkurang. Seiring jalannya pembangunan,
dengan alasan tertentu, sodetan baru pun dibuat lagi. Sungai Cimanuk di samping Pendopo itu tidak lagi
mengalirkan air. Apalagi menjadi momok
pembawa banjir rutin yang selalu terjadi setiap tahun.
Generasi yang menghirup udara
menjelang tahun 1990-an bahkan tidak akan pernah tahu kalau di bawah jembatan
gantung (begitu masyarakat menyebut jembatan yang letaknya beberapa meter dari
titik nol Indramayu itu) terdapat sungai.
Tanah berbentuk cekungan itu dapat disaksikan sebagai taman kota. Tertulis kokoh nama dinas/instansi pemerintah
yang mengelola taman tersebut.
Padahal, Sungai Cimanuk lama itu
bukanlah sekedar monumen. Pesan yang
saya sampaikan saat itu adalah bahwa penguasa Indramayu, mau tidak mau, suka tidak suka, sudah saatnya
menghidupkan kembali aliran sungai bersejarah itu. Jika tidak, jangan aneh kalau jalannya
pemerintahan dan kekuasaan dan kehidupan pun harus tertambak, tertutup,
terhalangi sebagaimana aliran Sungai Cimanuk lama yang tidak pernah lancar
lagi.
Mesjid Agung Saksi Kejayaan Cimanuk
Sumber : Dokumen Pribadi
Pesan itu tidaklah beralasan,
terpaksa harus segera disampaikan karena pernah terdengar adanya rencana
pembuatan berbagai fasilitas perbelanjaan di sungai yang saat itu sudah
mengering dan menjadi daratan.
Selain itu, saya juga mengajak
pembaca untuk mengenang pemerintahan yang sudah berlangsung puluhan tahun
sebelumnya. Adakah yang katanya tertulis
di Prasasti Wiralodra tercapai? Padalah
“ular” telah lama menyambung daratan Cimanuk, selama puluhan tahun api berkobar
tiada henti dalam terpaan hujan dan tiupan angin sekalipun tanpa minyak....
Oleh karena itu, saat itu, awal
tahun 2000-an saya berpesan kepada penguasa baru untuk menghidupkan kembali
Sungai Cimanuk. Sungai bersejarah. Sungai besar yang sudah lama merana akibat
para penguasa yang tidak pernah menghargai kesejarahannya.
Jalan setapak ini merupakan salah satu pemutus aliran Cimanuk
Sumber : Dokumen Pribadi
Tidak harus besar debit airnya,
tidak mesti menakutkan masyarakat sekitarnya, tidak harus meluap airnya sampai
tanggul yang sudah ditinggikan. Cukup,
“klicir” mengalir sedikit sekalipun merupakan bukti bahwa kita menghargai
sejarah yang telah membentuk kehidupan kita.
Menghidupkan kembali sungai yang telah dianggap mati.
Paling tidak, generasi baru akan
tahu bahwa dahulu kala, terdapat pelabuhan besar di Sungai Cimanuk. Bukan di Cemara, bukan di Lamarantarung,
bukan di Karangsong, tetapi di sisi barat Pendopo Indramayu.
Kosokata :
Kari = ketinggalan
Sumber :


Tidak ada komentar:
Posting Komentar