Senin, 29 Juni 2015

Jas Merah Indramayu (1) Sungai Cimanuk Mesti Mengalir




Ada yang mengatakan kalau tulisan saya belasan tahun yang lalu merupakan biang kerok yang menyebabkan saya tidak bisa hidup di negeri sendiri.  Saya beberapa kali menulis dengan judul akronim tokoh besar kebanggaan saya, Bung Karno, Jangan Sekali-sekali Melupakan Sejarah alias “Jas Merah”.  

Semuanya saya anggap salah.  Saya bisa hidup.  Dan, pastinya di Indramayu, tanah air kecil yang saya cintai.
Kata mereka, saya melawan penguasa.  Itulah sebabnya akan terus selalu di-black list!  Sampai-sampai karir pun dibrangus!!!

Lagi-lagi, pernyataan itu pun salah besar.  Saya hanya berpendapat dan tidak ingin ikut mendorong penguasa ke jurang.  Apalagi ikut-ikutan melempari beliau setelah jatuh.  Tidak!  Tentu saja tidak ada di daftar hitam, buktinya, seperti orang lain SK saya pun kertasnya putih kok....  Soal karir pun, selalu disyukuri sekalipun lagi-lagi harus ‘kari’....  Itu kan cuma soal kecepatan berlari saja. 

Hampir lima belas tahun lalu....

Ketika itu saya baru pulang ke kampung halaman.  Lama merantau, bukan berarti saya buta dengan informasi tentang tanah air kecil.  Termasuk pitutur tak tertulis yang tidak dipelajari di bangku sekolah.
Saya menulis tentang Sungai Cimanuk yang menjadi batas kekuasaan wilayah RA Wiralodra dengan babadan yang digarap Nyi Endang Dharma.  Pelabuhan sungai yang besar dan telah ramai dikunjungi para pedagang sebelum kedatangan RA Wiralodra.

Seiring berjalannya waktu Sungai Cimanuk yang berada di sisi barat Pendopo (Kantor Bupati) Indramayu makin sepi.  Lebih-lebih setelah Belanda membuat sodetan Sungai Cimanuk yang menyebabkan debit air sungai besar itu makin berkurang.  Seiring jalannya pembangunan, dengan alasan tertentu, sodetan baru pun dibuat lagi.  Sungai Cimanuk di samping Pendopo itu tidak lagi mengalirkan air.  Apalagi menjadi momok pembawa banjir rutin yang selalu terjadi setiap tahun.

Generasi yang menghirup udara menjelang tahun 1990-an bahkan tidak akan pernah tahu kalau di bawah jembatan gantung (begitu masyarakat menyebut jembatan yang letaknya beberapa meter dari titik nol Indramayu itu) terdapat sungai.  Tanah berbentuk cekungan itu dapat disaksikan sebagai taman kota.  Tertulis kokoh nama dinas/instansi pemerintah yang mengelola taman tersebut.

Padahal, Sungai Cimanuk lama itu bukanlah sekedar monumen.  Pesan yang saya sampaikan saat itu adalah bahwa penguasa Indramayu,  mau tidak mau, suka tidak suka, sudah saatnya menghidupkan kembali aliran sungai bersejarah itu.  Jika tidak, jangan aneh kalau jalannya pemerintahan dan kekuasaan dan kehidupan pun harus tertambak, tertutup, terhalangi sebagaimana aliran Sungai Cimanuk lama yang tidak pernah lancar lagi.


Mesjid Agung Saksi Kejayaan Cimanuk
Sumber : Dokumen Pribadi

Pesan itu tidaklah beralasan, terpaksa harus segera disampaikan karena pernah terdengar adanya rencana pembuatan berbagai fasilitas perbelanjaan di sungai yang saat itu sudah mengering dan menjadi daratan. 
Selain itu, saya juga mengajak pembaca untuk mengenang pemerintahan yang sudah berlangsung puluhan tahun sebelumnya.  Adakah yang katanya tertulis di Prasasti Wiralodra tercapai?  Padalah “ular” telah lama menyambung daratan Cimanuk, selama puluhan tahun api berkobar tiada henti dalam terpaan hujan dan tiupan angin sekalipun tanpa minyak....

Oleh karena itu, saat itu, awal tahun 2000-an saya berpesan kepada penguasa baru untuk menghidupkan kembali Sungai Cimanuk.  Sungai bersejarah.  Sungai besar yang sudah lama merana akibat para penguasa yang tidak pernah menghargai kesejarahannya.


Jalan setapak ini merupakan salah satu pemutus aliran Cimanuk
Sumber : Dokumen Pribadi

Tidak harus besar debit airnya, tidak mesti menakutkan masyarakat sekitarnya, tidak harus meluap airnya sampai tanggul yang sudah ditinggikan.  Cukup, “klicir” mengalir sedikit sekalipun merupakan bukti bahwa kita menghargai sejarah yang telah membentuk kehidupan kita.  Menghidupkan kembali sungai yang telah dianggap mati.

Paling tidak, generasi baru akan tahu bahwa dahulu kala, terdapat pelabuhan besar di Sungai Cimanuk.  Bukan di Cemara, bukan di Lamarantarung, bukan di Karangsong, tetapi di sisi barat Pendopo Indramayu.

Kosokata :
Kari = ketinggalan

Sumber :  

Tidak ada komentar:

Posting Komentar