Darsum menari-narikan rotan yang ada di tangannya, tanpa
aba-aba diayunkan langsung ke sasaran.
Ujung rotan tepat bersarang di betis lawan. Seakan tanpa rasa sakit, Sumana balas
mengincar mata kaki Darsum.
Ujungan, itulah tradisi adu kesatriaan yang biasa dilakukan
masyarakat Sumbon dengan tetangganya Rancakitiran setiap panen sadon usai. Diawali oleh datangnya para penggembala dari pengembaraannya di tengah
hutan selama musim hujan. Sapi dan
kerbau menempati kandang yang lebih dekat dengan rumah penduduk, dan mencari
makan rerumputan dan jerami di sawah-sawah.
Penggembala Rancakitiran dan Sumbon menyatu. Keakraban para penggembala ini diwarnai senda
gurau dan canda tawa. Termasuk di
dalamnya ujungan bohong-bohongan, menggunakan batang kangkungan atau
sebangsanya.
Ceria gembala yang memuncak membuat iri penduduk dari kedua
kampung, mereka mulai berdatangan menggantikan posisi para gembala. Ujung yang digunakan sudah standar, rotan
sebesar lengan bayi dan panjang setengah meter.
Setiap hpenonton berduyun-duyun mulai dari yang besar sampai mereka yang
masih dalam digendong. Para jagoan
bergantian memamerkan kelihaiannya memainkan ujung dan membidik sasaran, mata
kaki atau setidaknya betis lawan.
Sorak-sorai penonton selalu memeriahkan setiap suara yang
ditimbulkan ujung di kaki lawan.
Masing-masing memuji jagonya, tanpa dendam dan kebencian sekalipun
mereka berdiri berdempetan dan sering bersikutan. Datang bersama, pulang berbarengan menjelang
senja. Jagoan yang kalah merancang
strategi dan pemenang siap untuk ditantang.
Ujungan adalah hiburan yang selalu dinantikan. Tidak heran kalau pengunjungnya terus
membludak. Permasalahan mulai muncul
ketika rintik hujan ikut menyambut senja.
Ujungan harus berakhir di puncak keramaian, tak pelak perasaan tak puas
berlanjut dengan atraksi kerikil terbang.
Bandring mendesing melepaskan kerikil. Penduduk Sumbon berlari ke timur dan
pendukung Rancakitiran hengkang ke kampungnya.
Begitulah akhir acara hari itu dan seterusnya.
Sekitar satu minggu kemudian bukan hanya bandring yang
menjadi senjata, alat bantu pertanian mulai keluar dari sarangnya. Bengkrong, pedangan, golok
dan doran cangkul sering tak ketinggalan ikut meramaikan angkasa kedua
kutub setiap akhir ujungan.
Patut dicatat bahwa permusuhan ini hanya terjadi di tengah
sawah yang menjadi arena ujungan dan rentang waktunya adalah saat itu, berbatas
maghrib hari itu. Tidak pernah terjadi
penyerbuan masyarakat Sumbon ke Rancakitiran ataupun sebaliknya. Keramaian ujungan yang identik dengan ujung
musim kemarau pun menjadi ujung dari segala permusuhan.
Masyarakat Sumbon yang mempunyai sawah di Rancakitiran dapat
dengan damai menggarap sawah, demikian juga sebaliknya. Serunya permusuhan di arena ujungan seakan
tersilap oleh keinginan untuk secara bersama-sama mendapat berkah Dewi Sri.
Sayang suasana penuh kejantanan ini sekarang tinggal
kenangan. Sumana dan Darsum adalah dua
diantara saksi hidup dari kenangan masa lalu itu.
Sekarang sudah berubah, dimana-mana di Indramayu ini diliputi
oleh perkelahian massal yang sama sekali jauh dari suasana sinatria. Serbu sana, serang sini, tanpa awal yang
jelas dan tiada ujung yang pasti.
Ironisnya, permasalahan ataupun barang yang diperebutkan sama sekali
tidak jelas apalagi pasti.
Hanya satu yang pasti dalam satu tawuran, yaitu jatuhnya
korban yang tidak pernah tahu pasti apakah mereka gugur sebagai pahlawan atau
hanya seonggok bangkai yang dibiarkan terkulai di tepi jalan. Demikian pula harta benda dan aset lainnya
berceceran seakan tiada berharga, hancur dengan sia-sia.
Berbagai upaya mengatasi timbulnya tawuran pun seakan tidak
pernah mempan. Usaha keras itu selalu
berakhir dengan satu kata, tawuran.
Berkaca dari kejadian masa lalu, terlepas apakah ujungan itu
adalah strategi devide et impera Wong Londo agar masyarakat kita selalu
saling curiga, mungkin tidak ada salahnya kalau arena sinatria adu kekuatan
dimunculkan kembali. Pada waktu dan
tempat yang pasti. Di tengah sawah yang
luas dan setelah panen sadon, menjelang akhir musim kemarau.
Ada dua keutungan utama
lokalisasi arena keributan ini, yaitu munculnya satria-satria yang sebenarnya,
sedangkan para pengecut yang hanya berani ramai-ramai bikin ribut akan kalang
kabut. Kerusakan perkampungan yang
selalu mengiringi tawuran dapat dihindarkan, kalau ada pengrusakan hunian
masyarakat sudah dapat dipastikan adalah kelakuan para pengecut yang tidak
bertanggungjawa dan sepantasnya dijawab tegas dengan garis hukum yang
berlaku.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar