Bagi yang pernah melintasi Lembah Anai dari Kota
Padangpanjang ke wilayah Tanah Datar dan beberapa meter kemudian masuk
Kabupaten Padang Pariaman, tentu pernah mengetahui bahwa di sana banyak penjaja
ganja berkeliaran. Anak-anak muda usia
sekolah mengisi kocek dari profesi itu.
Polisi ? Dari posnya yang tidak
jauh dari lokasi transaksi mereka berlega hati, keberadaan mereka sangat
menguntungkan.
Lain di Sumatera Barat, beda pula di Jawa
Barat. War, penduduk Kampung Cidadap
Desa dan Kecamatan Cikedung Kabupaten Indramayu ini harus menginap di balik
jeruji besi gara-gara bermimpi kaya menjadi penjaja ganja.
Pemuda lajang yang dimabuk mimpi dalam pelaminan
indah itu tidak dapat mengelak. Dedaunan
tajam ilalang di tengah hutan Cikamurang menjadi saksi, ratusan batang perdu
berjari lima pun sebagai barang bukti.
Ancaman hukuman berat menanti War !
Sebenarnya polisi Sumatera Barat juga tidak kalah
galak terhadap penjaja ganja seperti War.
Kebun ganja yang pernah tersembunyi di tengah hutan perawan Pasaman pun
pernah diobrak-abrik.
Sedangkan anak muda penjaja ganja yang biasa di
dekat markas polisi Lembah Anai itu tetap aman-aman saja beroperasi di jalan
berkelok tajam dan curam karena jasanya yang sangat besar membantu kelancaran
lalu lintas. “Ganja !” merupakan lafal kata “ganjal” dalam lidah
masyarakat Minangkabau yang sering korupsi huruf di akhir kata.
Kembali kepada War dengan kebun ganjanya di
Cikamurang yang sedang ketiban sial.
Saat ini dia harus mempertanggungjawabkan upaya nyupang modernnya
sendirian, ayah dan kakak kandung serta Ras sahabatnya hanyalah kecipratan.
Rasanya sulit dipercaya kalau War menjalankan
usahanya ini sendirian, keculunannya tidaklah seimbang dengan teknik budidaya
modern yang diterapkan. Pengaturan pola
tanam, sekalipun sangat mudah diterapkan, perlu pengalaman panjang. Sedangkan War baru memulai menebar tiga biji
kecil itu dua tahun lalu.
Adakah peran aktor intelektual di balik keahlian
War ?
Faktor kedua yang patut dipertanyakan adalah,
“Sudah seberapa kaya sih, War ?” Secara
logika, dengan ratusan helai daun bisa ribuan linting dibuat dan jutaan perak
diperoleh. Kalau War adalah pemain
tunggal, mulai dari budidaya, produksi lintingan sampai distribusi pemasaran
maka usaha ilegal yang dijalankan selama dua tahun ini bisa sejajar dengan
teman sedesanya yang menjual diri ke Arab Saudi.
Upaya penyelidikan hendaknya tidak berhenti sampai
disitu. Pengguna pun sudah saatnya
diciduk karena suatu saat akan dapat menularkan pengalaman indahnya kepada
rekan atau bahkan menjadi pemasok untuk mabok.
Pertanyaan yang juga mengganjal adalah, “Mengapa
War aman-aman saja berladang ganja di sana?”
Sejak tahun 1999 lho !
Tanpa prasangka buruk kepada pihak manapun, maka
sangat mustahil kalau kerimbunan ilalang yang selalu ditunggu pemilik lahannya
itu tidak mencurigakan. Ada tetangga
pengolah lahan yang setiap saat seharusnya heran, polisi dan petugas kehutahan
yang terikat tugasnya di tengah hutan, para pekerja pabrik kayu putih yang
sering menjalankan pemanenan di dekat lokasi.
Rasa-rasanya mustahil kalau ladang War terus
tertutupi sekalipun berselimut tarian daun ilalang.
Pertanyaan terakhir yang juga harus dijawab
adalah, “Mengapa sampai terungkap
?” Pertanyaan ini sering menyebabkan
orang tidak mau melaporkan tindak kejahatan yang disaksikan kepda Polisi. Takut ketiban apes, malah menjadi
tersangka. Namun untuk bisnis ilegal,
pertanyaan seperti ini harus dijawab dengan tuntas.
Menjadikan War sebagai tumpuan kesalahan tanpa
penyelidikan ikutannya adalah kesalahan kwadrat. Puluhan pemuda tani lugu sekelas War di
Cidadap, petani miskin seperti War berbilang ratus dalam wilayah Kecamatan
Cikedung yang sangat luas itu, dan di Indramayu yang kaya raya ini masih ribuan
pemuda seusia War yang dari lahir hingga sekarang belum pernah menyentuh garis
standar hidup sejahtera yang paling rendah sekalipun.
Terungkapnya War sebagai penjaja ganja adalah awal
dari kewajiban petugas untuk mengungkap secara tuntas. Apalagi sebagai akhir, kecuali kalau hanya
sekedar harus berakhir.
Meringkuknya War di penjara ternyata masih
dipandang sebelah mata oleh oknum generasi muda yang suka merem-melek, apalagi
ada anggapan bahwa berlama-lama atau bahkan makin nyungsebnya War di Hotel
Prodeo adalah akibat Soekarno dan Hatta tidak ikut memproklamirkan kemerdekaannya.
Tidak heran kalau kemudian, ketika Polres
Indramayu memperketat peredaran barang-barang pembuat-pembual maka tertangkap
anak seorang Kapten. Berbagai kemampuan,
mulai mengandalkan baju dinas sampai kemampuan menghadirkan almarhum proklamator
digunakan demi kebebasan.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar