(Diterbitkan Dwimingguan DERMAYON, 11-25 November
2001)
Itulah kira-kira
julukan yang tepat bagi masyarakat Indramayu dalam kacamata Pertamina. Monopolis minyak dan gas di negeri ini bak
anak durhaka, telah dengan ringan menuduh ibu yang turut mengasuh dan membesarkan
atau bahkan melahirkannya sebagai penjahat.
Sungguh melebihi Malin Kundang dalam cerita rakyat Minangkabau.
“Enam juta dollar asset Pertamina digasak
masyarakat Indramayu,” begitu kira-kira kata Effendi Situmorang wakil dari
Pertamina pada pertemuan dengan Gubernur, Walikota dan Bupati daerah penghasil
minyak dan gas di Hotel Borobudur sebulan silam.
Dengan kurs saat
itu, Rp. 9.000,-/dollar USA, maka kerugian Pertamina mencapai Rp. 54
milyar. Bila dihubungkan dengan jumlah
penduduk Indramayu yang mencapai 1,6 juta orang maka secara matematis setiap
penduduk Indramayu mempunyai andil terhadap kerugian perusahaan tersebut
sekitar US $ 4 atau setara Rp. 36.000,-.
Dengan kata
lain, seluruh penghuni Indramayu mulai dari yang tua sampai balita, bahkan
mereka yang baru muncul dari 9 bulan persembunyiannya pun berhutang pada
Pertamina rata-rata Rp. 36.000,- yang besarnya akan melonjak dengan meningginya
kurs uang Paman Sam.
Tak dapat
dipungkiri bahwa dampak kehadiran Pertamina di Indramayu sangat luas. Kemajuan terjadi di sana-sini sebagai multiplier-effect-nya. Terakhir, pembangunan kilang minyak Exor II
di Balongan bahkan bukan hanya menarik industri ikutannya tetapi juga turut
membuka Kota Indramayu yang selama ini dalam bayang-bayang kebenderangan Kota
Jatibarang yang statusnya ibukota kecamatan.
Namun bukan
berarti Pertamina harus lupa sejarah 30 tahun silam, awal tahun 1970-an. Saat itu banyak masyarakat Kecamatan
Gabuswetan misalnya yang harus merelakan tanaman padi mereka yang sedang
bunting gagal ranum. Mereka tidak
menuntut ganti rugi sekalipun sawah mereka jadi kubangan para pekerja yang
menggotong dan memasang pipa. Pipa
Pertamina.
Justeru
keakraban-lah yang tercipta. Para
pekerja yang ribuan jumlahnya, berbilang bulan menetap berdesakan di rumah
penduduk. Mandi, masak dan tidur dalam
naungan satu atap. Ketika pekerjaan
telah usai, keharmonisan yang terbina membuat perpisahan menjadi sangat
memilukan. Isak-tangis mengiringi
kepergian mereka.
Pengeboran di
Kroya (saat itu masuk wilayah Kecamatan Gabuswetan) memang tinggal
kenangan. Pertamina melesat, maju pesat,
jauh meninggalkan kenangan dan keakraban.
Apalagi kerugian para petani yang benar-benar telah diikhlaskan.
Tapi siapa
nyana, kalau akhirnya Sang Anak menjadi sedemikian durhaka ?
Bertaubatlah
wahai anak manis, janganlah menunggu sumpah serapah masyarakat Indramayu yang
dapat membuatmu terbujur menjadi monumen …. Meratap tak kenal henti baki Malin
Kundang di Pantai Padang.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar