Apabila mendengar kata Indramayu maka yang terbayang di benak
pendengarnya adalah mangga, Mangga Indramayu.
Mangga berukuran besar, bulat-bentet dengan rasa manis dan penuh
dengan tekkstur empuk hampir tak berserat ini di Indramayu sendiri dikenal
dengan nama Mangga Cengkir.
Namun
zaman kemegahan Mangga Cengkir rupanya sudah di ambang batas kejayaan, Mangga
Gedong Gincu secara tiba-tiba menjadi pesaing utama di kebun petani. Melalui Proyek Pengembangan Agribisnis
Hortikultura Mangga Gedong Gincu (P2AH-MGG) maka selama 4 tahun berturut-turut
sejak tahun 1997/1998 – 2000 telah ditaman 100.000 (seratus ribu) batang Mangga
Gedong Gincu pada lahan sawah seluas 1.000 Ha.
Menurut prediksi sebelumnya maka pada tahun 2003 sebanyak 3.000 pohon
yang ditanam 6 tahun sebelumnya akan mulai menghasilkan buah sebanyak 25 kg/pohon. Tahun berikutnya akan meningkat terus sampai
usia produktifnya selesai (umur 30 tahun).
Mangga
Gedong Gincu merupakan mangga yang sebelumnya dipandang sebelah mata. Sekalipun rasanya sangat manis dan berbau
harum, mangga yang berpoles merah di kulitnya ini (bergincu) kurang menarik
masyarakat untuk membudidayakannya.
Selain produksinya relatif sedikit juga tidak laku di pasaran
sebagaimana Mangga Cengkir. Namun sekarang
yang terjadi adalah sebaliknya, harga Mangga Gedong Gincu mencapai Rp. 15.000,-/kg
sedangkan Mangga Cengkir hanya sepertiganya.
Malang nian nasib Mangga Indranayu atau Mangga Cengkir, bukan kalah
akibat kucuran dana Rp. 10 milyar yang ada di balik gencarnya penyebaran Mangga
Gedong Gincu tetapi akibat kerusakan yang terjadi dalam dirinya sendiri. Sudah lebih dari sepuluh tahun lalu, upaya
budidaya Mangga Cengkir menggunakan okulasi untuk mempercepat kematangan. Sebagai akibat langsungnya adalah rasa khas
tepung dan lembeknya serat tergantikan oleh aroma Mangga Bapang dengan tekstur
serat relatif kasar.
Kebanyakan Mangga Cengkir yang ada sekarang berbentuk lonjong dan
indah seperti Mangga Harummanis atau Mangga Golek. Tanaman yang lebih muda lagi keadaannya lebih
parah, banyak petani kecewa karena Mangga Cengkir yang ditanamnya setelah
berbuah hanya sebesar kemiri, persis Mangga Kemiri. Para pedagang asongan pun menyebut jajaannya
dengan “Mangga Indramayu” sekalipun bentuknya sudah beraneka rupa. Karena bentuk asli Mangga Cengkir sekarang
sudah jarang sekali nampak di pasaran, sudah berubah mirip berbagai jenis
mangga yang lain.
Lebih parahnya, bahkan masyarakat yang membutuhkan bibit Mangga
Cengkir pun harus membeli hasil okulasinya di Kabupaten Majalengka. Alasannya mudah ditebak, hasil pembibitan di
Kabupaten Indramayu tidak mencukupi atau bahkan tidak ada. Satu sisi kegiatan tersebut membudayakan
Mangga Cengkir, di sisi lain adalah peniadaan kekhasan mangga itu sendiri.
Upaya penyelamatan plasma nutfah Mangga Cengkir sebagai ciri khas
Indramayu sampai saat ini tidak pernah dilakukan. Sementara pohon Mangga Cengkir asli saat ini
sudah banyak yang tidak lagi produktif kecuali kayunya beralih mengaktifkan
nyala api dapur dan perapian. Kalau hal
ini terus berlanjut maka bukan tidak mungkin generasi muda Kabupaten Indramayu
di masa datang tidak pernah merasakan nikmatnya cita rasa irisan Mangga
Indramayu.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar