Pertengahan tahun
1990-an, terbetik berita bahwa Kabupaten Indramayu akan dimekarkan menjadi
dua. Kabupaten baru itu nantinya akan
diberi nama Kabupaten Kandanghaur.
Bagi masyarakat
Indramayu pada umumnya, apabila ditanyakan kepada mereka sebuah tempat bernama
Kandanghaur maka akan segera dengan tegas menunjuk sebuah lokasi tempat Wedana
dulu bermarkas, atau sebagian memberi alamat Kantor Camat Kandanghaur
sekarang. Padahal apabila dilongok KTP
para penghuni sekitar dua kantor tersebut, sangat mustahil ada yang beralamat
Desa Kandanghaur. Bukankah di Indramayu tidak ada pernah desa bernama
Kandanghaur ? Di manakah Kandanghaur
sebenarnya ?
Kandanghaur
adalah misteri, sangat jarang yang mengetahui keberadaan tempat yang mengandung
nama besar itu. Calon sebutan untuk Kabupaten,
pernah menjadi nama tempat para Wedana bergantian membantu Bupati dan sampai
sekarang menjadi nama salah satu kecamatan di Kabupaten Indramayu.
Alkisah, hampir
di ujung selatan Indramayu terdapat sebuah perkampungan yang sangat unik. Di sekelilingnya ditanami bambu (Sunda : haur) ori yang sangat lebat yang
menutup rapat lokasi itu, meng-kandang-nya dari dunia luar dengan duri
tajamnya. Hanya melalui satu pintu
gerbang yang dijaga ketat para penghuni yang terdiri dari para jawara, orang
boleh berlalu lalang. Tamu tak diundang
sangat dipantang, seorang ksatria pun akan lenyap ditelan bumi bila
kedatangannya tidak dikehendaki.
Kehebatan mereka
yang diiringi sifat isolasi bukan hanya membuat iri penduduk sekaitarnya tetapi
juga juga berulangkali merepotkan para prajurit kulit putih yang selalu
bertindak “Atas Nama Ratu” untuk menguasai negeri ini. Berbagai tindakan, mulai jalan damai sampai
penyerangan selalu membuahkan kekecewaan.
Kandanghaur tidak pernah dapat ditembus sama sekali apalagi tertaklukan. Mereka harus mengakui bahwa kekuatan onak dan
duri jauh lebih hebat daripada benteng-benteng beton yang pernah mereka buat.
Sadar bahwa
upaya yang dilakukan selalu menemui kegagalan, Belanda memutar otak. Tidak lagi melalui perang senjata ataupun
kata-kata tetapi berubah gaya seakan menjadi Santa Claus. Mereka membagi-bagikan kepingan uang emas
kepada anak-anak Kandanghaur yang sedang main di luar pagar. Kilau gulden yang semula ditampik para jawara
menjadi benda menarik bagi anak-anaknya.
Hal ini terus
berlangsung sampai mereka tumbuh dewasa, ketika para orangtua sebagian telah
menyerahkan tongkat kekuatan kepada penerusnya.
Saat itu mereka sadar bahwa emas bukan sekedar mainan belaka tetapi
menjadi sarana untuk mencapai segala yang diinginkan. Tanpa sadar, ketergantungan terhadap uang
mulai merasuk dalam jiwa.
Mengetahui hasil
kerja kerasnya selama puluhan tahun mulai menampakkan hasil, prajurit Belanda
merancang strategi lanjutan. Gulden
bukan lagi dibagi-bagikan dari tangan ke tangan tetapi di-sawer-kan,
dilempar jauh menembus onak dan duri pagar bambu. Koin-koin emas berselipan diantara batang
bambu yang sangat sulit ditembus manusia.
Wong Londo memang cerdas. Keinginan
memiliki gulden membuat penghuni kampung ber-kandang haur ini nekad,
dengan menggunakan golok, parang dan wadung.
Bambu ori satu-persatu dibereskan.
Dilumatkan dengan tanah sampai akhirnya mereka mendapatkan uang emas
yang diharapkan. Perkampungan itu lambat
laun tidak lagi dikurung bambu, menjadi terbuka dengan dunia luar seperti
halnya para penghuni kampung tetangganya.
Pucuk
dicinta, ulam tiba, di saat itulah Belanda
melampiaskan dendam kesumatnya. Jawara
Kandanghaur tidak lagi punya perlindungan kuat, benteng pertahanan telah jebol. Berbagai sisi yang telah terbuka dengan
dimanfaatkan penjajah dengan sebaik-baiknya.
Kejayaan dan kesatriaan Ki Geden Kandanghaur amblas terkubur nafsu
angkara anak-cucunya sendiri.
Sejak itulah
mereka berpencar, sebagian tetap di tempat dan yang lain hidup dalam kesuksesan
merantau di pinggiran laut bergabung dengan para keturunan Nyi Ageng
Parean.
Kandanghaur
sendiri sampai sekarang tinggallah sebuah nama besar, yang tidak akan pernah
mudah ditemui kecuali oleh mereka masih mau menyempatkan diri untuk menelusuri
perkampungan di Desa Sukaslamet.
Dari sejarah
Kandanghaur itu dapat dipetik pelajaran bahwa kekuatan sehebat apapun akan luluh-lantak
bila penghuninya secara serakah dan membabi-buta tergiur pada harta. Harta siapa saja, termasuk penghasilan
penjajah ataupun istilah sekarangnya ‘investor” yang digali di depan mata dari
tanah milik kita.
Dalam rangka
menuju kemuliharjaannya, Indramayu harus pun melalui lenggak-lenggok
godaan. Gelimangan dollar Pertamina
hasil sedotan kekayaan bumi Wiralodra membuat dada berdegup keras dan telinga
memanas ketika mendengarnya. Beberapa
pihak mencoba membakar jiwa perang dengan selebaran dan isyu-isyu logis, mudah
dicerna dan sangat masuk akal sehat.
Tetapi hendaknya
masyarakat menyadari bahwa untuk urusan itu sudah ada jalurnya. UU Nomor 22 Tahun 1999 (Bab IV, Pasal 7, ayat
(2)) telah menggariskan dan peraturan-perundangan yang lain juga
menetapkan. Walaupun kesemuanya itu
menjadi daya tarik untuk bergabung bersama mereka yang ber-yel-yel,
“Kita sangat dirugikan !”
Bupati Indramayu
dengan forum komunikasi yang dipimpinnya pun sedang berusaha menggapai harapan
masyarakat. Tidak perlu seluruh anggota
masyarakat panas dan gelisah yang akhirnya justeru dapat menghancurkan segala
rencana yang sudah disusun sedemikian rupa.
Pertamina
memang telah meninggalkan Kota Sanga-Sanga dan Samboja sumber minyaknya dulu,
dalam keadaan bak kerakap tumbuh di batu. Kehidupan di kedua kota itu sekarang, sangat
bisa membuat masyarakat Indramayu khawatir dan menjadi merah mata.
Jalan damai
yang ditempuh Walikota Tarakan sangatlah bijak.
Pertamina bukan hanya dengan lega menyerahkan beberapa assetnya yang
ditinggalkan tetapi juga kesatuan dan persatuan sebagai insan ber-satubangsa
tetap terpelihara.
Hal terakhir
adalah faktor terpenting apabila warga Indramayu masih menaganggap bahwa mereka
adalah bagian dari Negara Kesatuan Republik Indonesia, bukan suatu negara di
dalam negara. Meskipun selama ini
Pertamina di Indramayu bak Pemerintahan Daerah di dalam Kabupaten,
sehingga berbagai kebijakannya termasuk yang menyangkut masyarakat Indramayu
tidak pernah diketahui Pemerintah Kabupaten Indramayu.
Tragedi
seperti dialami anak-cucu Ki Geden Kandanghaur dulu tentu tidak perlu terulang
dalam menuju Indramayu Mulih Harja.
Tindakan gegabah penuh dendam dan kebencian, seperti aksi massa yang
sudah pasti diiringi kekerasan dan kehancuran, hanyalah jalan menjadikan
Indramayu sebagai Kandanghaur kedua.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar