Indramayu identik dengan mangga.
Itulah sebabnya Mangga Cengkir yang sangat khas pulen-nya di
masuarakat luas terkenal dengan nama Mangga Indramayu. Namun budidaya Mangga Gedong Gincu (MGG)
dengan dana milyaran rupiah di daerah ini akan mengancam citra Mangga Cengkir
menjadi Mangga Cengir (silakan tersenyum).
MGG memang mudah tumbuh, cocok sekali dikembangkan di Indramayu dan
Cirebonnya. Sesuai dengan namanya, pada
bagian atas buahnya terdapat bercak merah merata seperti gincu. Baunya harum melebihi Mangga Kweni, seratnya
yang sangat lembut menambah kenikmatan waktu disantap. Itulah sebabnya harga MGG relatif tinggi, 3
sampai 5 kali lipat daripada Mangga Cengkir.
Namun sayang, populasinya masih sangat sedikit.
Melalui Proyek Pengembangan Agribisnis Hortikultura Mangga Gedong
Gincu (P2AH-MGG) yang bekerjasama dengan Pemerintah Jepang, selama 3 tahun
terakhir tepatnya sejak tahun 1997/1998
di Kabupaten Indramayu ditanam 100 ribu bibit MGG hasil okulasi pada lahan
seribu hektar. Kabupaten Cirebon pun
mendapat jatah yang sama. Seorang
pejabat Dinas Perkebunan Kabupaten Cirebon membanggakan keberadaan MGG di kedua
daerah ini sebagai komoditi unggulan di Kawasan Ciayu Majakuning (Cirebon,
Indramayu, Majalengka dan Kuningan atau Wilayah III Cirebon).
Namun menjelang tanaman tahun pertama harus belajar berbuah masalah
seperti berdatangan, kematian mendadak tak terhindarkan. Sejak Januari 2001 Laju Tingkat Kematian
rata-rata MGG di Indramayu mencapai 3,26 prosen yang berarti 6.260 pohon mati
tiap bulannya. Nasib MGG di Cirebon
lebih memprihatinkan, dengan tambahan sulaman 24 ribu ternyata sekarang hanya
tersisa 84 ribu saja. Walaupun 40 ribu
tanamannya mati, Pimbagpronya tetap optimis akan keberhasilan proyek
mercusuarnya dan memaksakan kehendak untuk segera membangun 2 buah gedung
sortir di tahun 2002.
Memang tahun depan mangga yang ditanam tahun pertama akan mulai
belajar berbuah, musim buah berikutnya yang lain mengikuti, setahun kemudian
tambahan produksi terus meningkat.
Itulah harapan sesuai dengan perjanjian dalam proposal. MGG pun akan tercatat sebagai komoditi
unggulan jikalau tanaman itu tidak keduluan tercacat dan ditunggulkan
(dibiarkan mati dan menjadi monumen).
Pada akhirnya, nama MGG dipertaruhkan. Apakah tetap Mangga Gedong Gincu sebagai
bahasa Indonesia atau beralih asal menjadi bahasa Sunda dengan sedikit meleset,
“Mangga, Gedong Incu” (Silakan, rumah untuk cucu) !
Tidak ada komentar:
Posting Komentar