Senin, 29 Juni 2015

Jas Merah Indramayu (2) Sungai Cimanuk Batas Wilayah Indramayu




Berkaitan dengan sejarah Sungai Cimanuk yang sengaja dimatikan beberapa penguasa terdahulu.  Saya juga menulis tentang ketidakbolehan melupakan sejarah jika suatu saat wilayah Kabupaten Indramayu dibagi.

Pertengahan tahun 1990-an wacana itu sudah dalam bentuk dokumen tertulis dan harus dilaksanakan penguasa.  Tetapi sampai saat ini tidak juga terealisasi.

Pada awal tahun 2000-an itu saya sempat menulis bahwa jika wilayah Kabupaten Indramayu ini harus dibagi maka Sungai Cimanuk adalah patokan pembagian wilayah yang tidak dapat diganggu gugat.  Tentu saja Sungai Cimanuk lama yang saat itu sudah banyak berubah.

Oleh karena itu, hasil kajian dari Unviersitas Padjadjaran yang tidak pernah melirik ke aspek historik mesti dikorekksi.  Kritikan juga buat para ahli kebijakan Publik bahwa dalam membuat kajian, terutama dalam pembagian wilayah, maka aspek historis perlu dipertimbangkan.

Sekali lagi, jika Kabupaten Indramayu akan dibagi dua, maka sesuai dengan sejarah maka batasnya adalah Sungai Cimanuk lama. 


Sungai Cimanuk merupakan batas wilayah
babadan RA Wiralodra (timur) dengan Nyi Endang Darma (barat).
Sumber :  Koleksi Pribados

Bahkan saat itu saya mengkritisi nama Kabupaten Indramayu Barat dan Kabupaten Indramayu.  Wilayah baru di barat bisa saja bernama Kabupaten Kandanghaur atau Kabupaten Haurgeulis.  Bahkan menurut saya, yang paling tepat adalah Kabupaten Indramayu.

Bukankah, nama Indramayu, menurut pitutur lisan berasal dari Nyi Endang Dharma yang ayu rupanya itu?  Bukankah wilayah barat Sungai Cimanuk lama merupakan babadan Nyi Endang Dharma?  Oleh karena itu, nama wilayah kabupaten di timur Sungai Cimanuk lama-lah yang semestinya ganti nama.  Dan, wilayah kabupaten di babadan Nyi Endang Dharma lebih berhak atas nama Kabupaten Indramayu. 

Setelah berpuluh tahun ketetapan itu tidak dapat berjalan.  Kajian para ahli Universitas Pajadjaran pun hanya jadi pengisi perpustakaan.  Saya pikir, jangan lupakan sejarah.... merupakan pesan yang tidak boleh diabaikan.

Jika suatu saat Kabupaten Indramayu sudah hamil tua, desanya beratus-ratus, kecamatannya berpuluh-puluh, masyarakatnya berjuta-juta....  Jika harus dibagi dua, maka Sungai Cimanuk lama tidak boleh dilupakan sebagai tapal batas bersejarah.

Mungkin bagi sebagian orang saran seperti ini tidak perlu disampaikan, hanya cukup disimpan dalam dada.  Tetapi saya berpendapat lain, sudah saatnya kita berjalan di atas sejarah agar bisa meninggalkan sejarah bagi para penerus.

Pendapat lima belas tahun lalu itu pun masih tetap saya pegang teguh....  Kalaulah banyak cerdik cendekia dan alim ulama atau bahkan penguasa yang tidak suka atau bahkan tersinggung akibat pendapat saya, sah-sah saja.  Lain lubuk, lain ilalang.  Beda otak, beda isinya.

Dan, cukup raup reang dewek .... yang mengalami dan menanggung segala resikonya. 

Sumber :

Jas Merah Indramayu (1) Sungai Cimanuk Mesti Mengalir




Ada yang mengatakan kalau tulisan saya belasan tahun yang lalu merupakan biang kerok yang menyebabkan saya tidak bisa hidup di negeri sendiri.  Saya beberapa kali menulis dengan judul akronim tokoh besar kebanggaan saya, Bung Karno, Jangan Sekali-sekali Melupakan Sejarah alias “Jas Merah”.  

Semuanya saya anggap salah.  Saya bisa hidup.  Dan, pastinya di Indramayu, tanah air kecil yang saya cintai.
Kata mereka, saya melawan penguasa.  Itulah sebabnya akan terus selalu di-black list!  Sampai-sampai karir pun dibrangus!!!

Lagi-lagi, pernyataan itu pun salah besar.  Saya hanya berpendapat dan tidak ingin ikut mendorong penguasa ke jurang.  Apalagi ikut-ikutan melempari beliau setelah jatuh.  Tidak!  Tentu saja tidak ada di daftar hitam, buktinya, seperti orang lain SK saya pun kertasnya putih kok....  Soal karir pun, selalu disyukuri sekalipun lagi-lagi harus ‘kari’....  Itu kan cuma soal kecepatan berlari saja. 

Hampir lima belas tahun lalu....

Ketika itu saya baru pulang ke kampung halaman.  Lama merantau, bukan berarti saya buta dengan informasi tentang tanah air kecil.  Termasuk pitutur tak tertulis yang tidak dipelajari di bangku sekolah.
Saya menulis tentang Sungai Cimanuk yang menjadi batas kekuasaan wilayah RA Wiralodra dengan babadan yang digarap Nyi Endang Dharma.  Pelabuhan sungai yang besar dan telah ramai dikunjungi para pedagang sebelum kedatangan RA Wiralodra.

Seiring berjalannya waktu Sungai Cimanuk yang berada di sisi barat Pendopo (Kantor Bupati) Indramayu makin sepi.  Lebih-lebih setelah Belanda membuat sodetan Sungai Cimanuk yang menyebabkan debit air sungai besar itu makin berkurang.  Seiring jalannya pembangunan, dengan alasan tertentu, sodetan baru pun dibuat lagi.  Sungai Cimanuk di samping Pendopo itu tidak lagi mengalirkan air.  Apalagi menjadi momok pembawa banjir rutin yang selalu terjadi setiap tahun.

Generasi yang menghirup udara menjelang tahun 1990-an bahkan tidak akan pernah tahu kalau di bawah jembatan gantung (begitu masyarakat menyebut jembatan yang letaknya beberapa meter dari titik nol Indramayu itu) terdapat sungai.  Tanah berbentuk cekungan itu dapat disaksikan sebagai taman kota.  Tertulis kokoh nama dinas/instansi pemerintah yang mengelola taman tersebut.

Padahal, Sungai Cimanuk lama itu bukanlah sekedar monumen.  Pesan yang saya sampaikan saat itu adalah bahwa penguasa Indramayu,  mau tidak mau, suka tidak suka, sudah saatnya menghidupkan kembali aliran sungai bersejarah itu.  Jika tidak, jangan aneh kalau jalannya pemerintahan dan kekuasaan dan kehidupan pun harus tertambak, tertutup, terhalangi sebagaimana aliran Sungai Cimanuk lama yang tidak pernah lancar lagi.


Mesjid Agung Saksi Kejayaan Cimanuk
Sumber : Dokumen Pribadi

Pesan itu tidaklah beralasan, terpaksa harus segera disampaikan karena pernah terdengar adanya rencana pembuatan berbagai fasilitas perbelanjaan di sungai yang saat itu sudah mengering dan menjadi daratan. 
Selain itu, saya juga mengajak pembaca untuk mengenang pemerintahan yang sudah berlangsung puluhan tahun sebelumnya.  Adakah yang katanya tertulis di Prasasti Wiralodra tercapai?  Padalah “ular” telah lama menyambung daratan Cimanuk, selama puluhan tahun api berkobar tiada henti dalam terpaan hujan dan tiupan angin sekalipun tanpa minyak....

Oleh karena itu, saat itu, awal tahun 2000-an saya berpesan kepada penguasa baru untuk menghidupkan kembali Sungai Cimanuk.  Sungai bersejarah.  Sungai besar yang sudah lama merana akibat para penguasa yang tidak pernah menghargai kesejarahannya.


Jalan setapak ini merupakan salah satu pemutus aliran Cimanuk
Sumber : Dokumen Pribadi

Tidak harus besar debit airnya, tidak mesti menakutkan masyarakat sekitarnya, tidak harus meluap airnya sampai tanggul yang sudah ditinggikan.  Cukup, “klicir” mengalir sedikit sekalipun merupakan bukti bahwa kita menghargai sejarah yang telah membentuk kehidupan kita.  Menghidupkan kembali sungai yang telah dianggap mati.

Paling tidak, generasi baru akan tahu bahwa dahulu kala, terdapat pelabuhan besar di Sungai Cimanuk.  Bukan di Cemara, bukan di Lamarantarung, bukan di Karangsong, tetapi di sisi barat Pendopo Indramayu.

Kosokata :
Kari = ketinggalan

Sumber :  

Selasa, 09 September 2014

Ujungan


Darsum menari-narikan rotan yang ada di tangannya, tanpa aba-aba diayunkan langsung ke sasaran.  Ujung rotan tepat bersarang di betis lawan.  Seakan tanpa rasa sakit, Sumana balas mengincar mata kaki Darsum.

Ujungan, itulah tradisi adu kesatriaan yang biasa dilakukan masyarakat Sumbon dengan tetangganya Rancakitiran setiap panen sadon usai.  Diawali oleh datangnya para  penggembala dari pengembaraannya di tengah hutan selama musim hujan.  Sapi dan kerbau menempati kandang yang lebih dekat dengan rumah penduduk, dan mencari makan rerumputan dan jerami di sawah-sawah.  Penggembala Rancakitiran dan Sumbon menyatu.  Keakraban para penggembala ini diwarnai senda gurau dan canda tawa.  Termasuk di dalamnya ujungan bohong-bohongan, menggunakan batang kangkungan atau sebangsanya.

Ceria gembala yang memuncak membuat iri penduduk dari kedua kampung, mereka mulai berdatangan menggantikan posisi para gembala.  Ujung yang digunakan sudah standar, rotan sebesar lengan bayi dan panjang setengah meter.  Setiap hpenonton berduyun-duyun mulai dari yang besar sampai mereka yang masih dalam digendong.  Para jagoan bergantian memamerkan kelihaiannya memainkan ujung dan membidik sasaran, mata kaki atau setidaknya betis lawan.

Sorak-sorai penonton selalu memeriahkan setiap suara yang ditimbulkan ujung di kaki lawan.  Masing-masing memuji jagonya, tanpa dendam dan kebencian sekalipun mereka berdiri berdempetan dan sering bersikutan.  Datang bersama, pulang berbarengan menjelang senja.  Jagoan yang kalah merancang strategi dan pemenang siap untuk ditantang.

Ujungan adalah hiburan yang selalu dinantikan.  Tidak heran kalau pengunjungnya terus membludak.  Permasalahan mulai muncul ketika rintik hujan ikut menyambut senja.  Ujungan harus berakhir di puncak keramaian, tak pelak perasaan tak puas berlanjut dengan atraksi kerikil terbang.  Bandring mendesing melepaskan kerikil.  Penduduk Sumbon berlari ke timur dan pendukung Rancakitiran hengkang ke kampungnya.  Begitulah akhir acara hari itu dan seterusnya.

Sekitar satu minggu kemudian bukan hanya bandring yang menjadi senjata, alat bantu pertanian mulai keluar dari sarangnya.  Bengkrong, pedangan, golok dan doran cangkul sering tak ketinggalan ikut meramaikan angkasa kedua kutub setiap akhir ujungan. 

Patut dicatat bahwa permusuhan ini hanya terjadi di tengah sawah yang menjadi arena ujungan dan rentang waktunya adalah saat itu, berbatas maghrib hari itu.  Tidak pernah terjadi penyerbuan masyarakat Sumbon ke Rancakitiran ataupun sebaliknya.  Keramaian ujungan yang identik dengan ujung musim kemarau pun menjadi ujung dari segala permusuhan.

Masyarakat Sumbon yang mempunyai sawah di Rancakitiran dapat dengan damai menggarap sawah, demikian juga sebaliknya.  Serunya permusuhan di arena ujungan seakan tersilap oleh keinginan untuk secara bersama-sama mendapat berkah Dewi Sri.

Sayang suasana penuh kejantanan ini sekarang tinggal kenangan.  Sumana dan Darsum adalah dua diantara saksi hidup dari kenangan masa lalu itu. 

Sekarang sudah berubah, dimana-mana di Indramayu ini diliputi oleh perkelahian massal yang sama sekali jauh dari suasana sinatria.  Serbu sana, serang sini, tanpa awal yang jelas dan tiada ujung yang pasti.  Ironisnya, permasalahan ataupun barang yang diperebutkan sama sekali tidak jelas apalagi pasti.

Hanya satu yang pasti dalam satu tawuran, yaitu jatuhnya korban yang tidak pernah tahu pasti apakah mereka gugur sebagai pahlawan atau hanya seonggok bangkai yang dibiarkan terkulai di tepi jalan.  Demikian pula harta benda dan aset lainnya berceceran seakan tiada berharga, hancur dengan sia-sia.

Berbagai upaya mengatasi timbulnya tawuran pun seakan tidak pernah mempan.  Usaha keras itu selalu berakhir dengan satu kata, tawuran. 

Berkaca dari kejadian masa lalu, terlepas apakah ujungan itu adalah strategi devide et impera Wong Londo agar masyarakat kita selalu saling curiga, mungkin tidak ada salahnya kalau arena sinatria adu kekuatan dimunculkan kembali.  Pada waktu dan tempat yang pasti.  Di tengah sawah yang luas dan setelah panen sadon, menjelang akhir musim kemarau.

Ada dua keutungan utama lokalisasi arena keributan ini, yaitu munculnya satria-satria yang sebenarnya, sedangkan para pengecut yang hanya berani ramai-ramai bikin ribut akan kalang kabut.  Kerusakan perkampungan yang selalu mengiringi tawuran dapat dihindarkan, kalau ada pengrusakan hunian masyarakat sudah dapat dipastikan adalah kelakuan para pengecut yang tidak bertanggungjawa dan sepantasnya dijawab tegas dengan garis hukum yang berlaku.   

Senin, 08 September 2014

Mangga Indramayu Menanti Kepunahan

Apabila mendengar kata Indramayu maka yang terbayang di benak pendengarnya adalah mangga, Mangga Indramayu.  Mangga berukuran besar, bulat-bentet dengan rasa manis dan penuh dengan tekkstur empuk hampir tak berserat ini di Indramayu sendiri dikenal dengan nama Mangga Cengkir.

Namun zaman kemegahan Mangga Cengkir rupanya sudah di ambang batas kejayaan, Mangga Gedong Gincu secara tiba-tiba menjadi pesaing utama di kebun petani.  Melalui Proyek Pengembangan Agribisnis Hortikultura Mangga Gedong Gincu (P2AH-MGG) maka selama 4 tahun berturut-turut sejak tahun 1997/1998 – 2000 telah ditaman 100.000 (seratus ribu) batang Mangga Gedong Gincu pada lahan sawah seluas 1.000 Ha.  Menurut prediksi sebelumnya maka pada tahun 2003 sebanyak 3.000 pohon yang ditanam 6 tahun sebelumnya akan mulai menghasilkan buah sebanyak 25 kg/pohon.  Tahun berikutnya akan meningkat terus sampai usia produktifnya selesai (umur 30 tahun).

Mangga Gedong Gincu merupakan mangga yang sebelumnya dipandang sebelah mata.  Sekalipun rasanya sangat manis dan berbau harum, mangga yang berpoles merah di kulitnya ini (bergincu) kurang menarik masyarakat untuk membudidayakannya.  Selain produksinya relatif sedikit juga tidak laku di pasaran sebagaimana Mangga Cengkir.  Namun sekarang yang terjadi adalah sebaliknya, harga Mangga Gedong Gincu mencapai Rp. 15.000,-/kg sedangkan Mangga Cengkir hanya sepertiganya.

Malang nian nasib Mangga Indranayu atau Mangga Cengkir, bukan kalah akibat kucuran dana Rp. 10 milyar yang ada di balik gencarnya penyebaran Mangga Gedong Gincu tetapi akibat kerusakan yang terjadi dalam dirinya sendiri.  Sudah lebih dari sepuluh tahun lalu, upaya budidaya Mangga Cengkir menggunakan okulasi untuk mempercepat kematangan.  Sebagai akibat langsungnya adalah rasa khas tepung dan lembeknya serat tergantikan oleh aroma Mangga Bapang dengan tekstur serat relatif kasar. 

Kebanyakan Mangga Cengkir yang ada sekarang berbentuk lonjong dan indah seperti Mangga Harummanis atau Mangga Golek.  Tanaman yang lebih muda lagi keadaannya lebih parah, banyak petani kecewa karena Mangga Cengkir yang ditanamnya setelah berbuah hanya sebesar kemiri, persis Mangga Kemiri.  Para pedagang asongan pun menyebut jajaannya dengan “Mangga Indramayu” sekalipun bentuknya sudah beraneka rupa.  Karena bentuk asli Mangga Cengkir sekarang sudah jarang sekali nampak di pasaran, sudah berubah mirip berbagai jenis mangga yang lain.

Lebih parahnya, bahkan masyarakat yang membutuhkan bibit Mangga Cengkir pun harus membeli hasil okulasinya di Kabupaten Majalengka.  Alasannya mudah ditebak, hasil pembibitan di Kabupaten Indramayu tidak mencukupi atau bahkan tidak ada.  Satu sisi kegiatan tersebut membudayakan Mangga Cengkir, di sisi lain adalah peniadaan kekhasan mangga itu sendiri.

Upaya penyelamatan plasma nutfah Mangga Cengkir sebagai ciri khas Indramayu sampai saat ini tidak pernah dilakukan.  Sementara pohon Mangga Cengkir asli saat ini sudah banyak yang tidak lagi produktif kecuali kayunya beralih mengaktifkan nyala api dapur dan perapian.  Kalau hal ini terus berlanjut maka bukan tidak mungkin generasi muda Kabupaten Indramayu di masa datang tidak pernah merasakan nikmatnya cita rasa irisan Mangga Indramayu.

Mangga Gedong Gincu




Indramayu identik dengan mangga.  Itulah sebabnya Mangga Cengkir yang sangat khas pulen-nya di masuarakat luas terkenal dengan nama Mangga Indramayu.  Namun budidaya Mangga Gedong Gincu (MGG) dengan dana milyaran rupiah di daerah ini akan mengancam citra Mangga Cengkir menjadi Mangga Cengir (silakan tersenyum).

MGG memang mudah tumbuh, cocok sekali dikembangkan di Indramayu dan Cirebonnya.  Sesuai dengan namanya, pada bagian atas buahnya terdapat bercak merah merata seperti gincu.  Baunya harum melebihi Mangga Kweni, seratnya yang sangat lembut menambah kenikmatan waktu disantap.  Itulah sebabnya harga MGG relatif tinggi, 3 sampai 5 kali lipat daripada Mangga Cengkir.  Namun sayang, populasinya masih sangat sedikit.

Melalui Proyek Pengembangan Agribisnis Hortikultura Mangga Gedong Gincu (P2AH-MGG) yang bekerjasama dengan Pemerintah Jepang, selama 3 tahun terakhir tepatnya sejak tahun  1997/1998 di Kabupaten Indramayu ditanam 100 ribu bibit MGG hasil okulasi pada lahan seribu hektar.  Kabupaten Cirebon pun mendapat jatah yang sama.  Seorang pejabat Dinas Perkebunan Kabupaten Cirebon membanggakan keberadaan MGG di kedua daerah ini sebagai komoditi unggulan di Kawasan Ciayu Majakuning (Cirebon, Indramayu, Majalengka dan Kuningan atau Wilayah III Cirebon).

Namun menjelang tanaman tahun pertama harus belajar berbuah masalah seperti berdatangan, kematian mendadak tak terhindarkan.  Sejak Januari 2001 Laju Tingkat Kematian rata-rata MGG di Indramayu mencapai 3,26 prosen yang berarti 6.260 pohon mati tiap bulannya.  Nasib MGG di Cirebon lebih memprihatinkan, dengan tambahan sulaman 24 ribu ternyata sekarang hanya tersisa 84 ribu saja.  Walaupun 40 ribu tanamannya mati, Pimbagpronya tetap optimis akan keberhasilan proyek mercusuarnya dan memaksakan kehendak untuk segera membangun 2 buah gedung sortir di tahun 2002.

Memang tahun depan mangga yang ditanam tahun pertama akan mulai belajar berbuah, musim buah berikutnya yang lain mengikuti, setahun kemudian tambahan produksi terus meningkat.  Itulah harapan sesuai dengan perjanjian dalam proposal.  MGG pun akan tercatat sebagai komoditi unggulan jikalau tanaman itu tidak keduluan tercacat dan ditunggulkan (dibiarkan mati dan menjadi monumen).
           
Pada akhirnya, nama MGG dipertaruhkan.  Apakah tetap Mangga Gedong Gincu sebagai bahasa Indonesia atau beralih asal menjadi bahasa Sunda dengan sedikit meleset, “Mangga, Gedong Incu” (Silakan, rumah untuk cucu)  !