Selasa, 09 September 2014

Ujungan


Darsum menari-narikan rotan yang ada di tangannya, tanpa aba-aba diayunkan langsung ke sasaran.  Ujung rotan tepat bersarang di betis lawan.  Seakan tanpa rasa sakit, Sumana balas mengincar mata kaki Darsum.

Ujungan, itulah tradisi adu kesatriaan yang biasa dilakukan masyarakat Sumbon dengan tetangganya Rancakitiran setiap panen sadon usai.  Diawali oleh datangnya para  penggembala dari pengembaraannya di tengah hutan selama musim hujan.  Sapi dan kerbau menempati kandang yang lebih dekat dengan rumah penduduk, dan mencari makan rerumputan dan jerami di sawah-sawah.  Penggembala Rancakitiran dan Sumbon menyatu.  Keakraban para penggembala ini diwarnai senda gurau dan canda tawa.  Termasuk di dalamnya ujungan bohong-bohongan, menggunakan batang kangkungan atau sebangsanya.

Ceria gembala yang memuncak membuat iri penduduk dari kedua kampung, mereka mulai berdatangan menggantikan posisi para gembala.  Ujung yang digunakan sudah standar, rotan sebesar lengan bayi dan panjang setengah meter.  Setiap hpenonton berduyun-duyun mulai dari yang besar sampai mereka yang masih dalam digendong.  Para jagoan bergantian memamerkan kelihaiannya memainkan ujung dan membidik sasaran, mata kaki atau setidaknya betis lawan.

Sorak-sorai penonton selalu memeriahkan setiap suara yang ditimbulkan ujung di kaki lawan.  Masing-masing memuji jagonya, tanpa dendam dan kebencian sekalipun mereka berdiri berdempetan dan sering bersikutan.  Datang bersama, pulang berbarengan menjelang senja.  Jagoan yang kalah merancang strategi dan pemenang siap untuk ditantang.

Ujungan adalah hiburan yang selalu dinantikan.  Tidak heran kalau pengunjungnya terus membludak.  Permasalahan mulai muncul ketika rintik hujan ikut menyambut senja.  Ujungan harus berakhir di puncak keramaian, tak pelak perasaan tak puas berlanjut dengan atraksi kerikil terbang.  Bandring mendesing melepaskan kerikil.  Penduduk Sumbon berlari ke timur dan pendukung Rancakitiran hengkang ke kampungnya.  Begitulah akhir acara hari itu dan seterusnya.

Sekitar satu minggu kemudian bukan hanya bandring yang menjadi senjata, alat bantu pertanian mulai keluar dari sarangnya.  Bengkrong, pedangan, golok dan doran cangkul sering tak ketinggalan ikut meramaikan angkasa kedua kutub setiap akhir ujungan. 

Patut dicatat bahwa permusuhan ini hanya terjadi di tengah sawah yang menjadi arena ujungan dan rentang waktunya adalah saat itu, berbatas maghrib hari itu.  Tidak pernah terjadi penyerbuan masyarakat Sumbon ke Rancakitiran ataupun sebaliknya.  Keramaian ujungan yang identik dengan ujung musim kemarau pun menjadi ujung dari segala permusuhan.

Masyarakat Sumbon yang mempunyai sawah di Rancakitiran dapat dengan damai menggarap sawah, demikian juga sebaliknya.  Serunya permusuhan di arena ujungan seakan tersilap oleh keinginan untuk secara bersama-sama mendapat berkah Dewi Sri.

Sayang suasana penuh kejantanan ini sekarang tinggal kenangan.  Sumana dan Darsum adalah dua diantara saksi hidup dari kenangan masa lalu itu. 

Sekarang sudah berubah, dimana-mana di Indramayu ini diliputi oleh perkelahian massal yang sama sekali jauh dari suasana sinatria.  Serbu sana, serang sini, tanpa awal yang jelas dan tiada ujung yang pasti.  Ironisnya, permasalahan ataupun barang yang diperebutkan sama sekali tidak jelas apalagi pasti.

Hanya satu yang pasti dalam satu tawuran, yaitu jatuhnya korban yang tidak pernah tahu pasti apakah mereka gugur sebagai pahlawan atau hanya seonggok bangkai yang dibiarkan terkulai di tepi jalan.  Demikian pula harta benda dan aset lainnya berceceran seakan tiada berharga, hancur dengan sia-sia.

Berbagai upaya mengatasi timbulnya tawuran pun seakan tidak pernah mempan.  Usaha keras itu selalu berakhir dengan satu kata, tawuran. 

Berkaca dari kejadian masa lalu, terlepas apakah ujungan itu adalah strategi devide et impera Wong Londo agar masyarakat kita selalu saling curiga, mungkin tidak ada salahnya kalau arena sinatria adu kekuatan dimunculkan kembali.  Pada waktu dan tempat yang pasti.  Di tengah sawah yang luas dan setelah panen sadon, menjelang akhir musim kemarau.

Ada dua keutungan utama lokalisasi arena keributan ini, yaitu munculnya satria-satria yang sebenarnya, sedangkan para pengecut yang hanya berani ramai-ramai bikin ribut akan kalang kabut.  Kerusakan perkampungan yang selalu mengiringi tawuran dapat dihindarkan, kalau ada pengrusakan hunian masyarakat sudah dapat dipastikan adalah kelakuan para pengecut yang tidak bertanggungjawa dan sepantasnya dijawab tegas dengan garis hukum yang berlaku.   

Senin, 08 September 2014

Mangga Indramayu Menanti Kepunahan

Apabila mendengar kata Indramayu maka yang terbayang di benak pendengarnya adalah mangga, Mangga Indramayu.  Mangga berukuran besar, bulat-bentet dengan rasa manis dan penuh dengan tekkstur empuk hampir tak berserat ini di Indramayu sendiri dikenal dengan nama Mangga Cengkir.

Namun zaman kemegahan Mangga Cengkir rupanya sudah di ambang batas kejayaan, Mangga Gedong Gincu secara tiba-tiba menjadi pesaing utama di kebun petani.  Melalui Proyek Pengembangan Agribisnis Hortikultura Mangga Gedong Gincu (P2AH-MGG) maka selama 4 tahun berturut-turut sejak tahun 1997/1998 – 2000 telah ditaman 100.000 (seratus ribu) batang Mangga Gedong Gincu pada lahan sawah seluas 1.000 Ha.  Menurut prediksi sebelumnya maka pada tahun 2003 sebanyak 3.000 pohon yang ditanam 6 tahun sebelumnya akan mulai menghasilkan buah sebanyak 25 kg/pohon.  Tahun berikutnya akan meningkat terus sampai usia produktifnya selesai (umur 30 tahun).

Mangga Gedong Gincu merupakan mangga yang sebelumnya dipandang sebelah mata.  Sekalipun rasanya sangat manis dan berbau harum, mangga yang berpoles merah di kulitnya ini (bergincu) kurang menarik masyarakat untuk membudidayakannya.  Selain produksinya relatif sedikit juga tidak laku di pasaran sebagaimana Mangga Cengkir.  Namun sekarang yang terjadi adalah sebaliknya, harga Mangga Gedong Gincu mencapai Rp. 15.000,-/kg sedangkan Mangga Cengkir hanya sepertiganya.

Malang nian nasib Mangga Indranayu atau Mangga Cengkir, bukan kalah akibat kucuran dana Rp. 10 milyar yang ada di balik gencarnya penyebaran Mangga Gedong Gincu tetapi akibat kerusakan yang terjadi dalam dirinya sendiri.  Sudah lebih dari sepuluh tahun lalu, upaya budidaya Mangga Cengkir menggunakan okulasi untuk mempercepat kematangan.  Sebagai akibat langsungnya adalah rasa khas tepung dan lembeknya serat tergantikan oleh aroma Mangga Bapang dengan tekstur serat relatif kasar. 

Kebanyakan Mangga Cengkir yang ada sekarang berbentuk lonjong dan indah seperti Mangga Harummanis atau Mangga Golek.  Tanaman yang lebih muda lagi keadaannya lebih parah, banyak petani kecewa karena Mangga Cengkir yang ditanamnya setelah berbuah hanya sebesar kemiri, persis Mangga Kemiri.  Para pedagang asongan pun menyebut jajaannya dengan “Mangga Indramayu” sekalipun bentuknya sudah beraneka rupa.  Karena bentuk asli Mangga Cengkir sekarang sudah jarang sekali nampak di pasaran, sudah berubah mirip berbagai jenis mangga yang lain.

Lebih parahnya, bahkan masyarakat yang membutuhkan bibit Mangga Cengkir pun harus membeli hasil okulasinya di Kabupaten Majalengka.  Alasannya mudah ditebak, hasil pembibitan di Kabupaten Indramayu tidak mencukupi atau bahkan tidak ada.  Satu sisi kegiatan tersebut membudayakan Mangga Cengkir, di sisi lain adalah peniadaan kekhasan mangga itu sendiri.

Upaya penyelamatan plasma nutfah Mangga Cengkir sebagai ciri khas Indramayu sampai saat ini tidak pernah dilakukan.  Sementara pohon Mangga Cengkir asli saat ini sudah banyak yang tidak lagi produktif kecuali kayunya beralih mengaktifkan nyala api dapur dan perapian.  Kalau hal ini terus berlanjut maka bukan tidak mungkin generasi muda Kabupaten Indramayu di masa datang tidak pernah merasakan nikmatnya cita rasa irisan Mangga Indramayu.

Mangga Gedong Gincu




Indramayu identik dengan mangga.  Itulah sebabnya Mangga Cengkir yang sangat khas pulen-nya di masuarakat luas terkenal dengan nama Mangga Indramayu.  Namun budidaya Mangga Gedong Gincu (MGG) dengan dana milyaran rupiah di daerah ini akan mengancam citra Mangga Cengkir menjadi Mangga Cengir (silakan tersenyum).

MGG memang mudah tumbuh, cocok sekali dikembangkan di Indramayu dan Cirebonnya.  Sesuai dengan namanya, pada bagian atas buahnya terdapat bercak merah merata seperti gincu.  Baunya harum melebihi Mangga Kweni, seratnya yang sangat lembut menambah kenikmatan waktu disantap.  Itulah sebabnya harga MGG relatif tinggi, 3 sampai 5 kali lipat daripada Mangga Cengkir.  Namun sayang, populasinya masih sangat sedikit.

Melalui Proyek Pengembangan Agribisnis Hortikultura Mangga Gedong Gincu (P2AH-MGG) yang bekerjasama dengan Pemerintah Jepang, selama 3 tahun terakhir tepatnya sejak tahun  1997/1998 di Kabupaten Indramayu ditanam 100 ribu bibit MGG hasil okulasi pada lahan seribu hektar.  Kabupaten Cirebon pun mendapat jatah yang sama.  Seorang pejabat Dinas Perkebunan Kabupaten Cirebon membanggakan keberadaan MGG di kedua daerah ini sebagai komoditi unggulan di Kawasan Ciayu Majakuning (Cirebon, Indramayu, Majalengka dan Kuningan atau Wilayah III Cirebon).

Namun menjelang tanaman tahun pertama harus belajar berbuah masalah seperti berdatangan, kematian mendadak tak terhindarkan.  Sejak Januari 2001 Laju Tingkat Kematian rata-rata MGG di Indramayu mencapai 3,26 prosen yang berarti 6.260 pohon mati tiap bulannya.  Nasib MGG di Cirebon lebih memprihatinkan, dengan tambahan sulaman 24 ribu ternyata sekarang hanya tersisa 84 ribu saja.  Walaupun 40 ribu tanamannya mati, Pimbagpronya tetap optimis akan keberhasilan proyek mercusuarnya dan memaksakan kehendak untuk segera membangun 2 buah gedung sortir di tahun 2002.

Memang tahun depan mangga yang ditanam tahun pertama akan mulai belajar berbuah, musim buah berikutnya yang lain mengikuti, setahun kemudian tambahan produksi terus meningkat.  Itulah harapan sesuai dengan perjanjian dalam proposal.  MGG pun akan tercatat sebagai komoditi unggulan jikalau tanaman itu tidak keduluan tercacat dan ditunggulkan (dibiarkan mati dan menjadi monumen).
           
Pada akhirnya, nama MGG dipertaruhkan.  Apakah tetap Mangga Gedong Gincu sebagai bahasa Indonesia atau beralih asal menjadi bahasa Sunda dengan sedikit meleset, “Mangga, Gedong Incu” (Silakan, rumah untuk cucu)  !

MIRASGATEL-MIRASGAET-MIRASGATE




Perang terhadap minuman keras juga terjadi di Indramayu seperti halnya daerah lain.   Di wilayah paling barat, ribuan miras sitaan Polsek Haurgeulis dihancurkan.  Demikian juga di tingkatan polsek kecamatan yang lain, aksi serupa bukan hal yang baru.

Tetapi ceritanya menjadi lain ketika dua bak truk besar miras sitaan diamankan di ingkungan Kantor Bupati, tepatnya di gudang bekas kantor Bagian Perlengkapan.  Pada kawasan yang 24 jam dijaga ketat Satpol PP ini, sekitar 5.000 dus berisi 50.000 botol miras lenyap tanpa krana.  Padahal upacara pemusnahan tumpukan botol miras itu rencananya akan dilaksanakan oktober lalu, langsung dipimpin Bupati.

Selidik punya selidik, ternyata timbunan botol itu membuat gatel oknum yang mesti menjaganya akibat alergi Mirasgatel.  Satu dua kali garukan belum terasa dampaknya.  Dengan dukungan seorang oknum pejabat, bakat Mirasgaet-nya pun tumbuh dan berkembang, satu demi satu dus digaet sampai ludes.

Media lokal membombardir kasus ini dengan berbagai pemberitaanya sehingga masyarakat Indramayu menjadi akrab dengan kata Mirasgate.

Hasilnya tidak sia-sia, Bupati Indramayu H. Irianto M. S. menepati janjinya.  Setelah melalui proses yang cukup lama, palu diketuk.  Oknum Satpol PP yang berstatus sukwan dipecat, Kasubag Ratel yang menggoda mereka dicopot jabatannya, ada juga yang ditunda kenaikan pangkatnya satu tahun dan teguran tertulis disampaikan kepada pejabat yang berkaitan sampai dengan level Asisten I.

Penyitaan miras memang selalu identik dengan menghilangnya botol itu dari peredaran yang berbanding terbalik dengan membludaknya permintaan sering menyebabkan alergi Mirasgatel.  Kalau sudah terkena penyakit ini orang-baik-baik pun akan kejangkitan Mirasgaet.  Masih akan ada hasilnya kalau akhirnya berkembang menjadi Mirasgate.  Kalau tidak, nasibnya akan lama terkatung-katung seperti Bulogate.

Bahasa Asing



 
Walaupun Indramayu secara administratif berada di wilayah Jawa Barat yang selalu identik dengan budaya Sunda, namun sebagian terbesar masyarakatnya berbahasa Jawa.
Dengan berlakunya Perda Propinsi Jawa Barat No. 6 Tahun 1996 yang menjadikan Basa Sunda sebagai pelajaran wajib muatan lokal maka jadilah anak-anak SD di Indramayu mengenal bahasa asing sejak dini.  Palajar SMP/MTs dan SMA/SMK/MA harus melahapnya bersamaan Bahasa Inggeris atau Bahasa Arab sekaligus.  Bahasa asing dimaksud tidak lain adalah bahasa yang paling dekat dengan masyarakat Jawa Barat, yaitu Basa Sunda.
Lucunya Basa Sunda bukan hanya asing bagi siswa yang lahir dan besar dalam budaya Jawa totok tetapi juga para guru yang kebanyakan berasal dari Jawa Tengah dan Yogyakarta atau bahkan guru senior dari daerah Pasundan sendiri seperti Ciamis, Bandung, Majalengka dan Kuningan.  Apalagi bagi masyarakat yang jadi tumpuan bertanya anak-anaknya.  Jadilah Basa Sunda bahasa asing untuk semua.
Tidak heran kalau pembelajaran Basa Sunda di Indramayu gagal total, kecuali berhasil membentuk image bahwa Bahasa Jawa Indramayu sangat kasar !  Anak-anak Indramayu sekarang hanya bisa Jawa Ngoko, tidak bisa mengerti ketika mendengar orang-orang tua Bebasan (bertegur sapa dengan Jawa Krama).  Padahal dulu, bahasa jenis ini yang dibekalkan kepada para siswa.
Saking asingnya Basa Sunda bagi masyarakat Indramayu, pengamat budaya Hendro pernah menulis pada Dwimingguan lokal Dermayon, “Salah satu peristiwa cukup menggelikan di sebuah SD ketika diselenggarakan TPB akhir caturwulan.  Murid-murid kelas VI SD tersebut menerima lembar naskah soal Bahasa Daerah Sunda dengan perintah, “Eusian titik-titik dihadapan ieu !”  yang jumlahnya 10 soal.  Tetapi yang terjadi kemudian membuat guru bersangkutan kebingungan, pasalnya bagaimana guru akan memberikan nilai atas pekerjaan siswanya, apabila dari kesepuluh soal tersebut hanya diisi dengan titik-titik (…) belaka.”
Setelah kebijakan itu berlangsung beberapa tahun dan dinilai gagal total maka kebijakanpun berganti.  Kali ini anak-anak sekolah mulai belajar Basa Indramayu yang sebenarnya.  Ada jawa ngoko, diberi juga bebasan (bahasa halus) dan cara menulis aksara jawa (ana-caraka).
Sekalipun Basa Indramayu merupakan bahasa ibu sebagian besar masyarakat Indramayu tetapi bukan berarti tidak menghadapi kendala.  Para siswa yang tiba-tiba harus berhadapan dengan bahasa asing baru yang harus dipelajarinya. 

Penjaja Ganja



Bagi yang pernah melintasi Lembah Anai dari Kota Padangpanjang ke wilayah Tanah Datar dan beberapa meter kemudian masuk Kabupaten Padang Pariaman, tentu pernah mengetahui bahwa di sana banyak penjaja ganja berkeliaran.  Anak-anak muda usia sekolah mengisi kocek dari profesi itu.  Polisi ?  Dari posnya yang tidak jauh dari lokasi transaksi mereka berlega hati, keberadaan mereka sangat menguntungkan.

Lain di Sumatera Barat, beda pula di Jawa Barat.  War, penduduk Kampung Cidadap Desa dan Kecamatan Cikedung Kabupaten Indramayu ini harus menginap di balik jeruji besi gara-gara bermimpi kaya menjadi penjaja ganja.

Pemuda lajang yang dimabuk mimpi dalam pelaminan indah itu tidak dapat mengelak.  Dedaunan tajam ilalang di tengah hutan Cikamurang menjadi saksi, ratusan batang perdu berjari lima pun sebagai barang bukti.  Ancaman hukuman berat menanti War !

Sebenarnya polisi Sumatera Barat juga tidak kalah galak terhadap penjaja ganja seperti War.  Kebun ganja yang pernah tersembunyi di tengah hutan perawan Pasaman pun pernah diobrak-abrik. 

Sedangkan anak muda penjaja ganja yang biasa di dekat markas polisi Lembah Anai itu tetap aman-aman saja beroperasi di jalan berkelok tajam dan curam karena jasanya yang sangat besar membantu kelancaran lalu lintas.  “Ganja !”  merupakan lafal kata “ganjal” dalam lidah masyarakat Minangkabau yang sering korupsi huruf di akhir kata.

Kembali kepada War dengan kebun ganjanya di Cikamurang yang sedang ketiban sial.  Saat ini dia harus mempertanggungjawabkan upaya nyupang modernnya sendirian, ayah dan kakak kandung serta Ras sahabatnya hanyalah kecipratan.

Rasanya sulit dipercaya kalau War menjalankan usahanya ini sendirian, keculunannya tidaklah seimbang dengan teknik budidaya modern yang diterapkan.  Pengaturan pola tanam, sekalipun sangat mudah diterapkan, perlu pengalaman panjang.  Sedangkan War baru memulai menebar tiga biji kecil itu dua tahun lalu.

Adakah peran aktor intelektual di balik keahlian War ?

Faktor kedua yang patut dipertanyakan adalah, “Sudah seberapa kaya sih, War ?”  Secara logika, dengan ratusan helai daun bisa ribuan linting dibuat dan jutaan perak diperoleh.  Kalau War adalah pemain tunggal, mulai dari budidaya, produksi lintingan sampai distribusi pemasaran maka usaha ilegal yang dijalankan selama dua tahun ini bisa sejajar dengan teman sedesanya yang menjual diri ke Arab Saudi.

Upaya penyelidikan hendaknya tidak berhenti sampai disitu.  Pengguna pun sudah saatnya diciduk karena suatu saat akan dapat menularkan pengalaman indahnya kepada rekan atau bahkan menjadi pemasok untuk mabok.

Pertanyaan yang juga mengganjal adalah, “Mengapa War aman-aman saja berladang ganja di sana?”  Sejak tahun 1999 lho !

Tanpa prasangka buruk kepada pihak manapun, maka sangat mustahil kalau kerimbunan ilalang yang selalu ditunggu pemilik lahannya itu tidak mencurigakan.  Ada tetangga pengolah lahan yang setiap saat seharusnya heran, polisi dan petugas kehutahan yang terikat tugasnya di tengah hutan, para pekerja pabrik kayu putih yang sering menjalankan pemanenan di dekat lokasi.   

Rasa-rasanya mustahil kalau ladang War terus tertutupi sekalipun berselimut tarian daun ilalang.

Pertanyaan terakhir yang juga harus dijawab adalah, “Mengapa sampai        terungkap ?”  Pertanyaan ini sering menyebabkan orang tidak mau melaporkan tindak kejahatan yang disaksikan kepda Polisi.  Takut ketiban apes, malah menjadi tersangka.  Namun untuk bisnis ilegal, pertanyaan seperti ini harus dijawab dengan tuntas.

Menjadikan War sebagai tumpuan kesalahan tanpa penyelidikan ikutannya adalah kesalahan kwadrat.  Puluhan pemuda tani lugu sekelas War di Cidadap, petani miskin seperti War berbilang ratus dalam wilayah Kecamatan Cikedung yang sangat luas itu, dan di Indramayu yang kaya raya ini masih ribuan pemuda seusia War yang dari lahir hingga sekarang belum pernah menyentuh garis standar hidup sejahtera yang paling rendah sekalipun.

Terungkapnya War sebagai penjaja ganja adalah awal dari kewajiban petugas untuk mengungkap secara tuntas.  Apalagi sebagai akhir, kecuali kalau hanya sekedar harus berakhir.

Meringkuknya War di penjara ternyata masih dipandang sebelah mata oleh oknum generasi muda yang suka merem-melek, apalagi ada anggapan bahwa berlama-lama atau bahkan makin nyungsebnya War di Hotel Prodeo adalah akibat Soekarno dan Hatta tidak ikut memproklamirkan kemerdekaannya.

Tidak heran kalau kemudian, ketika Polres Indramayu memperketat peredaran barang-barang pembuat-pembual maka tertangkap anak seorang Kapten.  Berbagai kemampuan, mulai mengandalkan baju dinas sampai kemampuan menghadirkan almarhum proklamator digunakan demi   kebebasan.