Walaupun
Indramayu secara administratif berada di wilayah Jawa Barat yang selalu identik
dengan budaya Sunda, namun sebagian terbesar masyarakatnya berbahasa Jawa.
Dengan berlakunya Perda Propinsi Jawa Barat No. 6 Tahun 1996 yang
menjadikan Basa Sunda sebagai pelajaran wajib muatan lokal maka jadilah
anak-anak SD di Indramayu mengenal bahasa asing sejak dini. Palajar SMP/MTs dan SMA/SMK/MA harus
melahapnya bersamaan Bahasa Inggeris atau Bahasa Arab sekaligus. Bahasa asing dimaksud tidak lain adalah
bahasa yang paling dekat dengan masyarakat Jawa Barat, yaitu Basa Sunda.
Lucunya Basa Sunda bukan hanya asing bagi siswa yang lahir
dan besar dalam budaya Jawa totok tetapi juga para guru yang kebanyakan
berasal dari Jawa Tengah dan Yogyakarta atau bahkan guru senior dari daerah
Pasundan sendiri seperti Ciamis, Bandung, Majalengka dan Kuningan. Apalagi bagi masyarakat yang jadi tumpuan
bertanya anak-anaknya. Jadilah Basa
Sunda bahasa asing untuk semua.
Tidak heran kalau pembelajaran Basa Sunda di Indramayu gagal
total, kecuali berhasil membentuk image bahwa Bahasa Jawa Indramayu
sangat kasar ! Anak-anak Indramayu
sekarang hanya bisa Jawa Ngoko, tidak bisa mengerti ketika mendengar
orang-orang tua Bebasan (bertegur sapa dengan Jawa Krama). Padahal dulu, bahasa jenis ini yang
dibekalkan kepada para siswa.
Saking asingnya Basa Sunda bagi
masyarakat Indramayu, pengamat budaya Hendro pernah menulis pada Dwimingguan
lokal Dermayon, “Salah satu peristiwa cukup menggelikan di sebuah SD ketika
diselenggarakan TPB akhir caturwulan.
Murid-murid kelas VI SD tersebut menerima lembar naskah soal Bahasa Daerah
Sunda dengan perintah, “Eusian titik-titik dihadapan ieu !” yang jumlahnya 10 soal. Tetapi yang terjadi kemudian membuat guru
bersangkutan kebingungan, pasalnya bagaimana guru akan memberikan nilai atas
pekerjaan siswanya, apabila dari kesepuluh soal tersebut hanya diisi dengan
titik-titik (…)
belaka.”
Setelah kebijakan itu berlangsung beberapa tahun dan dinilai gagal
total maka kebijakanpun berganti. Kali
ini anak-anak sekolah mulai belajar Basa Indramayu yang sebenarnya. Ada jawa ngoko, diberi juga bebasan (bahasa
halus) dan cara menulis aksara jawa (ana-caraka).
Sekalipun Basa Indramayu merupakan bahasa ibu sebagian besar
masyarakat Indramayu tetapi bukan berarti tidak menghadapi kendala. Para siswa yang tiba-tiba harus berhadapan
dengan bahasa asing baru yang harus dipelajarinya.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar