Senin, 08 September 2014

Bahasa Asing



 
Walaupun Indramayu secara administratif berada di wilayah Jawa Barat yang selalu identik dengan budaya Sunda, namun sebagian terbesar masyarakatnya berbahasa Jawa.
Dengan berlakunya Perda Propinsi Jawa Barat No. 6 Tahun 1996 yang menjadikan Basa Sunda sebagai pelajaran wajib muatan lokal maka jadilah anak-anak SD di Indramayu mengenal bahasa asing sejak dini.  Palajar SMP/MTs dan SMA/SMK/MA harus melahapnya bersamaan Bahasa Inggeris atau Bahasa Arab sekaligus.  Bahasa asing dimaksud tidak lain adalah bahasa yang paling dekat dengan masyarakat Jawa Barat, yaitu Basa Sunda.
Lucunya Basa Sunda bukan hanya asing bagi siswa yang lahir dan besar dalam budaya Jawa totok tetapi juga para guru yang kebanyakan berasal dari Jawa Tengah dan Yogyakarta atau bahkan guru senior dari daerah Pasundan sendiri seperti Ciamis, Bandung, Majalengka dan Kuningan.  Apalagi bagi masyarakat yang jadi tumpuan bertanya anak-anaknya.  Jadilah Basa Sunda bahasa asing untuk semua.
Tidak heran kalau pembelajaran Basa Sunda di Indramayu gagal total, kecuali berhasil membentuk image bahwa Bahasa Jawa Indramayu sangat kasar !  Anak-anak Indramayu sekarang hanya bisa Jawa Ngoko, tidak bisa mengerti ketika mendengar orang-orang tua Bebasan (bertegur sapa dengan Jawa Krama).  Padahal dulu, bahasa jenis ini yang dibekalkan kepada para siswa.
Saking asingnya Basa Sunda bagi masyarakat Indramayu, pengamat budaya Hendro pernah menulis pada Dwimingguan lokal Dermayon, “Salah satu peristiwa cukup menggelikan di sebuah SD ketika diselenggarakan TPB akhir caturwulan.  Murid-murid kelas VI SD tersebut menerima lembar naskah soal Bahasa Daerah Sunda dengan perintah, “Eusian titik-titik dihadapan ieu !”  yang jumlahnya 10 soal.  Tetapi yang terjadi kemudian membuat guru bersangkutan kebingungan, pasalnya bagaimana guru akan memberikan nilai atas pekerjaan siswanya, apabila dari kesepuluh soal tersebut hanya diisi dengan titik-titik (…) belaka.”
Setelah kebijakan itu berlangsung beberapa tahun dan dinilai gagal total maka kebijakanpun berganti.  Kali ini anak-anak sekolah mulai belajar Basa Indramayu yang sebenarnya.  Ada jawa ngoko, diberi juga bebasan (bahasa halus) dan cara menulis aksara jawa (ana-caraka).
Sekalipun Basa Indramayu merupakan bahasa ibu sebagian besar masyarakat Indramayu tetapi bukan berarti tidak menghadapi kendala.  Para siswa yang tiba-tiba harus berhadapan dengan bahasa asing baru yang harus dipelajarinya. 

Tidak ada komentar:

Posting Komentar