Orang yang tidak tahu sejarah akan dihukum oleh
sejarah itu sendiri.
(George Santayana)
Pada tahun 1996, tiba-tiba terjadi suatu peristiwa
yang benar-benar mengejutkan dunia kesenian di negeri maha artistik ini. Sintren atau di beberapa desa di Indramayu
disebut juga sebagai laisan, sebuah seni tari yang telah pupus lebih dari 20
tahun bangkit dari kuburnya.
Solasi soliandana
Menyan putih ngundang Dewa
Ana dewa dening sukma
Widadari temurunna
Salah satu lagu wajib sintren itu berkumandang kembali mengawali setiap
pertunjukkan. Sedikit berbeda dengan
periode sebelumnya, lagu-lagu bernuansa mantera itu tidak lagi beriring bumbung
bambu, kuali tanah dan suara kecrek rangkaian tutup botol
tetapi terdiri dari gitar, suling, gendang dan beberapa peralatan modern
lainnya.
Sampai di sini, masih wajar bila ada yang menyebut sebagai kreasi yang
disesuaikan dengan kebutuhan pasar.
Pangsa pasar mereka adalah anak-anak muda yang lebih suka dengan irama
dang-dut, sehingga kesenian dilekukkan sedemikian rupa agar dapat diterima oleh
mereka semua.
Mungkin itulah bentuk alternatif, sebuah kreasi yang sangat sulit diterima
generasi tua tetapi menjadi daya tarik anak belia yang saat itu menjadi pasar
yang diharapkan. Sintren mendapat
pulasan modern sehingga dapat diterima komunitas yang saat itu mengagungkan
bendera modern dan membuang habis cap kuno dari jiwa mereka.
Kebebasan berkreasi ternyata tidak sampai di situ, lambat-laun pakem yang
seharusnya mengerem tidak pakem lagi.
Kreatifiitas menjadi kebablasan. Akankah ini termasuk alternatif agar sintren
tetap terus menembus pasar ?
Seperti sudah
sama-sama dimaklumi, bahwa sintren terlahir dari jiwa-jiwa masyarakat yang
ingin terbebas dari segala belenggu penjajahan.
Pesan sintren yang bisu, menggambarkan kebiasaan masyarakat yang hanya
bisa memendam keinginan untuk merdeka itu, karena selalu sadar akan mara bahaya
yang akan menimpa apabila terdengar oleh penjajah.
Dalam setiap
awal pertunjukkan sintren dengan mata tertutup dan tangan terikat kuat dengan
saputangan ditutup kurungan bersama pakaian dan perhiasan. Setelah lagu-lagu magis dikumandangkan,
ajaib, sintren masih dalam keadaan mata tertutup dan tangan terbanda
telah mengenakan pakaian lengkap dengan asesoris dan tata rias kecantikan
wajah.
Hanya makhluk
dalam kurunganlah yang tahu ketika sintren bantuan siapapun mengenakan kacamata
hitam yang disediakan ataupun melepas tangannya dari ikatan. Selanjutnya saputangan bukan lagi menjadi
penghambat tetapi malah dijadikan alat untuk dilambai-lambaikan dalam tarian
hampa sadar. Sebuah tarian kebebasan,
bebas dari segala gangguan, sehingga apabila ada benda menyentuhnya (biasanya
sarung yang di-sawer-kan penonton) akan membuat sintren tiba-tiba jatuh
tak sadarkan diri. Tidak ada yang dapat
menyembuhkannya kecuali kepulan dupa dan secarik lirik :
Godong kilaras
Ditandur ning tengah alas
Paman bibi aja
maras
Dalang lain njaluk waras
Kreatifitas anak
muda seperti diceritakan terdahulu itu berani juga menembus pakem. Sintren atau dalang lais awalnya saja
menggunakan aturan main, seterusnya disawer puluhan sarung sekalipun akan tetap
lihai memainkan goyangannya. Hal ini
menunjukkan bahwa mereka menari di alam sadar.
Berarti telah jauh melenceng dari pakem yang digariskan.
Selain sakti
terhadap barang lemparan, sintren modern pun tahan sentuhan. Penonton yang bebas menari-nari bersama
sintren kadang berbuat tidak senonoh menyelipkan sejumlah uang. Dalang lais bukannya pingsan tetapi malah
membalas dengan senyuman.
Saat itu sintren
bukan hanya sempat melebihi populeritas tarling, sandiwara dan orkes dangdut
yang bayarannya mahal tetapi juga menggilas video, film atapun hiburan
alakadarnya (tape). Bayaran
murah-meriah, bisa ditanggap kapan saja adalah salah satu keunggulannya.
Namun siapa
nyana kalau kejayaan itu merupakan akhir dari reinkarnasi sintren. Pemerintahan saat itu, dengan mengatasnamakan
ketertiban umum tidak jarang mengobrak-abrik atau membatalkan pertunjukkan yang
akan berlangsung. Kalau sudah begitu,
dalang lais dan nayaga hanya bisa meratapi nasib sedangkan
penonton adu jotos untuk menebus ketidakpuasan.
Hal terakhir ini akhirnya menjadi bumerang pertunjukkan sintren itu
sendiri.
Keberadaan
sintren secara tragis lenyap bersama kepudaran populeritas sesaat yang
dinikmati. Sintren ditelan bumi tanpa
sisa yang ditinggalkan kecuali gambaran di benak anak muda bahwa sintren adalah
seperti yang mereka lakukan dan sama sekali berbeda dengan dongeng kakek nenek
mereka yang telah renta dimakan usia.
Sintren mati
tragis karena dalam kehidupannya yang kedua tiada pernah tahu sejarahnya
sendiri ….
Sepertinya kesenian
lain khas Indramayu khususnya tarling akan mengalami hal serupa bila tidak
diantisipasi sejak dini. Tarling yang
sekarang telah jauh melenceng dari pakem yang digariskan semula.
Bukan berarti
harus mengacu pada namanya yang tidak lain dari kependekkan gitar dan suling
sebagai alat utama pengiring, masuknya alat-alat modern sebagai pelengkap akan
sangat berarti sebagai penghargaan terhadap kreatifitas. Dominasi gitar dan suling dapat saja diganti
dengan organ, gendang bisa ditendang oleh drum tapi tidak untuk ketentuan yang
telah berlaku dan menjadi pakem tarling, yaitu dalam pertunjukkan selain
dialunkan lagu-lagu hiburan juga dipentaskan drama kehidupan masyarakat.
Ketepatan waktu
adalah suatu prestasi yang selalu dijunjung tinggi. Pertunjukkan siang dibuka nenalu jam
09.00, lagu-lagu dan drama sampai datangnya istirahat menjelang dzuhur dan
berlanjut sampai lepas ashar. Sedangkan
malam hari dimulai jam 19.00 dengan berbagai pidato dan pesan-pesan, kemudian
lagu-lagu dan diteruskan dengan drama sampai menjelang fajar tiba. Dalam drama juga diselingi lagu-lagu dan
lawakan.
Pembagian waktu
yang semula begitu ditaati mulai bergeser dengan dominasi lagu-lagu. Semula dianggap tidak terlalu masalah ketika masih sempat muncul secuil drama
di akhir pertunjukan. Mereka yang tidak
lagi tertarik dengan drama mulai mengejawantahkan diri sebagai tarling dangdut
modern, suatu bentuk tarling alternatif untuk menembus kebisuan pasar.
Masyarakat pun lama-kelamaam menjadi mahfum ketika harus menunggu nayaga
seharian karena mereka baru datang setelah azan dzuhur berkumandang. Pertunjukkan tidak lagi sempat menampilkan
drama karena kekurangan waktu, hanya beberapa lagu dangdut sudah cukup. Di malam hari pun penonton harus bersabar
atau memanfaatkan untuk kegiatan lain dari yang positif sampai menenggak mnuman
demi menunggu pertunjukan.
Irama lagu bukan
lagi yang seiring dengan instrumen dahulu, praktis semua berbau dangdut. Seiring dengan penampilan lagu-lagu dan upaya
untuk memuaskan penonton maka agar tidak monoton, hal-hal yang menurut pakem
tidak patut ditampilkan pun jadi tontonan.
Pakaian seronok dan goyangan yang hanya pas dipersandingkan dengan
tarian Michael Jackson adalah pemandangan yang biasa atau dibiasakan di atas
panggung. Seakan hanya satu yang mereka
tuju, kepuasan konsumen !
Betapa hebatnya
mereka, membawakan lagu-lagu berbahasa Indramayu menembus dominasi Melayu. TVRI, TPI, RCTI, SCTV, ANTeve bahkan Indosiar
menjajakan kegemulaian meraka dalam pakaian super ketat. Seniman Indramayu memang hebat.
Tanda-tanda ajal
sudah muncul, tanpa antisipasi tarling dangdut modern tinggal menghitung
hari. Bukan hanya tarling dangdut modern
yng wafat tetapi juga tarling secara keseluruhan akan terkena imbasnya.
Para pengusung
tarling dangdut modern yang telah menghalalkan masuknya peralatan modern dan
penampilan modern (kalau tidak boleh dibilang kebablasan menjadi super
primitif) telah membuat teknologi yang lebih baik dapat mengepung mereka. Ternyata saat ini kombinasi suara seabreg
peralatan tarling modern tidak lebih baik daripada sebuah organ. Nayaga yang berbilang puluh cukup
diganti 10 jari dan dua kaki.
Organ-organ
sangat cepat memasyarakat, selain praktis ongkos tanggapnya sangatlah
murah. Soal kualitas, mulai dari lagu
sampai penampilan super berani tidak akan kalah dengan tarling dangdut modern.
Akankah ini
merupakan karma buat pengusung tarling dangdut modern yang tidak pernah
memahami pakem tarling yang diwariskan para leluhur ?
Masih belum
terlambat untuk kembali ke jalan yang benar walaupun ini terlalu berat. Peran Pemerintah Daerah Kabupaten Indramayu
tentu sangat diperlukan untuk menjaga agar ‘cagar budaya’ tarling tidak
tenggelam makin dalam pada tuts-tuts organ setelah ditekan jari-jemari
dan diinjak-injak kaki Sang Operator atau terpental jauh tak kuat bertahan
dalam goyangan artis yang makin heboh.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar