(Diterbitkan Dwimingguan DERMAYON, 11-25 November
2001)
Dua tahun lalu,
sebuah harian ibukota memberitakan tentang rencana pemekaran Kabupaten
Indramayu. Sepuluh kecamatan paling
barat masuk dalam kabupaten baru, Kabupaten Indramayu Barat.
Tetapi ketika
otonomi daerah mulai bergulir, berita itu semakin samar dan sekarang makin
tidak jelas ujung-pangkalnya. Semua
unsur seperti terkesiap, disibukkan oleh otonomi yang berarti otomoni (auto-money)
dan bukan lagi onotomi (semua lancar asal ada Tommy dengan mega-proyek
Cendana).
Keterbengkalaian
pemekaran wilayah ini seakan menjadi firasat, ada keganjilan yang harus
dibenahi. Sesuatu yang melupakan
sejarah, yaitu sejarah lahirnya Indramayu yang baru saja diperingati sebagai
yang ke-474.
Berbicara
tentang Indramayu, tentu tidak akan lepas dari Raden Aria Wiralodra dan Nyi
Endang Darma. Pada suatu hari, Nyi
Endang Darma seorang wanodya berparas ayu (cantik jelita) menemui
R. A. Wiralodra seorang ksatria Begelen yang lebih dahulu babad
di Indramayu. Beliau memperkenankan Nyi
Endang Darma untuk babad-babad di belantara sebelah barat Sungai Cimanuk
yang belum dibabadnya.
Pola babad
Nyi Endang Darma dan pengikutnya sangat khas, babad-babad langsung
ditanami. Dengan demikian belantara
berubah menjadi lahan budidaya, dan masyarakat pun makin berdatangan
mengikutinya. Tidak dapat dipungkiri
kalau cara babad para karuhun ini pada akhirnya memberi warna
terhadap pola hidup keturunannya sekarang.
Di era pembauran
seperti sekarang ini sangat sulit untuk membandingkan satu sama lain kecuali
yang berkompeten dengan sosiologi pedesaan.
Bukan hanya karena masing-masing saling beradaptasi tetapi juga
terkontaminasi oleh budaya luar.
Aspek historis
memang sering dilupakan dalam pengambilan suatu keputusan penting. Apalagi hanya dongeng getok-tular yang
tidak dapat dibuktikan secara tertulis.
Riwayat Nyi Endang Darma memang terputus hanya sampai perkelahiannya
dengan Pangeran Guru dan 25 prajuritnya dari Palembang yang mengakibatkan geramnya
Wiralodra karena keratonnya luluh-lantak.
Makam Pengeran Guru sampai sekarang masih ada, demikian juga para
prajuritnya (Makan Selawe) sedangkan makam Nyi Endang Darma tidak pernah
ada khabar beritanya. Namun demikian,
tidak ada salahnya kalau getok-tular ini dijadikan bahan renungan.
Getok tular itu sama sekali tidak sepemikiran dengan draft yang kata harian itu
sudah mendekati final, yang menetapkan wilayah Indramayu Barat meliputi 10
kecamatan, yaitu Kecamatan Haurgeulis, Bongas, Anjatan, Sukra, Kandanghaur,
Gabuswetan, Kroya, Losarang, Cikedung dan Lelea yang meliputi 121 desa atau
hampir 1/3 jumlah desa yang ada di Indramayu sekarang.
Demikian pula
sangat jauh dari dongeng merencanakan Sindang masuk Indramayu Timur, apalagi
Lohbener, Widasari dan Bangodua. Sebab
batas babadan Wiralodra adalah Sungai Cimanuk.
Patut diketahui bahwa Sungai Cimanuk yang dimaksud getok tular
adalah Sungai Cimanuk yang bekasnya menembus ibukota Kabupaten Indramayu
sekarang, bukan limpahannya yang dibuat penjajah 80 tahun lalu, apalagi yang
lebih muda umurnya.
Dongeng getok
tular memberi wawasan bahwa Indramayu Timur meliputi Kecamatan Kertasmaya,
Jatibarang dan Indramayu di sebelah barat sampai ke timur berbatasan dengan
Kabupaten Cirebon serta Laut Jawa di timur lautnya. Bila dilihat dari luas wilayahnya maka
menjadi relatif sempit, hanya 45.850 Ha
atau sekitar 1/5 dari luas wilayah Kabupaten Indramayu sekarang (204.011
Ha) atau sedikit lebih sempit dari luas dua kecamatan di Indramayu Barat yaitu
Kecamatan Haurgeulis dan Cikedung (48.495 Ha).
Indramayu Barat
yang sangat luas itu kebanyakan terdiri atas sawah dan lahan terbuka, sementara
di timur Sungai Cimanuk sumberdaya manusia menjadi potensi utama untuk maju.
Balik pemikiran
ke dongeng masa lalu memang sangat tidak populer karena tidak ada segi
ilmiah yang mendukung. Apalagi kalau
dikaitkan dengan hitung-hitungan sumberdaya minyak dan gas bumi yang terpendam
di dalamnya. Tetapi tiada salahnya kalau
hal ini menjadi alternatif pemikiran untuk mencapai Indramayu Mulih Harja
seperti yang diwangsitkan Raden Aria Wiralodra.
Bung Karno pernah mewanti-wanti, “Jangan Sekali-sekali Melupakan Sejarah
!” dalam sebuah pidatonya yang lebih
dikenal sebagai “Jas Merah”.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar