Sampai sekarang
NOKIA masih menamakan produknya mobilephone dan masyarakat dulunya
langsung menterjemahkan sebagai telepon mobil.
Saat itu telepon yang mudah dibawa-bawa ukurannya relatif besar dan
harga menjulang tinggi. Bisa diduga yang
bisa memilikinya adalah orang tertentu dan dipastikan punya mobil.
Sekarang telepon
semacam itu telah bereinkarnasi untuk kesekian kali. Dari ukuran yang harus dijinjing menjadi
cukup digenggam bahkan saking ringannya menjadi menarik diikliankan
sebagai anting-anting. Istilahnyapun telah
bergeser menjadi telepon genggam sebagai terjemahan dari handphone.
Berbagai
keistimewaan ditawarkan produsen, keunggulan teknologi dalam jangkauan dan mutu
suara yang dihasilkan menjadi andalan, berbagai fasilitas hiburan juga
ditawarkan. Harga sangat kompetitif,
tidak lagi menembus deretan angka harga generasi pertamanya, untuk yang
tercanggih sekalipun tidak lagi sampai setengahnya.
Uang satu juta
rupiah bisa dapat yang baru, dengan tambahan beberapa ratus ribu akan
terjangkau yang lebih canggih. Harga
barang second-nya sudah pasti amblas.
Monopolis penjual HP di stasiun Depok I hanya memajang angka 300 ribu
sampai 500 ribu untuk Nokia 3330 yang di toko dalam keadaan baru harus ditebus
Rp. 1.455.000,-, sangat tergantung kondisi fisiknya. Di dekat GI PLN Jatinegara, kaki lima
menghampar HP berbagai merk dengan harga kong-kaling-kong.
Masyarakat
negeri ini telah benar-benar menyadari bahwa HP adalah suatu alat yang dapat
mempermudah berkomunikasi, dengan siapa saja, kapan saja dan dimana saja. Tanpa halangan dan batas yang
menghambat. Impian dunia tanpa batas
tercapai sudah.
Sekalipun dalam
perjalanannya pernah diisyukan dapat menimbulkan gelombang radiasi yang akan
merusak gendang telinga dan otak, HP tetap unggul dan melesat jauh meninggalkan
radio panggil yang cukup lama merajai dunia komunikasi. Dalam waktu singkat HP bukan lagi barang
mewah, sudah dapat dimiliki semua kalangan.
Pelajar dan mahasiswa yang sering diisyukan kesulitan biaya sekalipun
banyak yang menenteng telepon genggam di tangan.
Penggunaan HP
telah menembus batas, termasuk batas nilai-nilai etika yang selalu
dibanggakan. Di ruang rapat, seminar,
lokakarya dan sebangsanya semakin banyak peserta yang jari-jemarinya lebih
sibuk daripada telinga mendengarkan pembicara.
Bahkan di gedung DPR, dalam sorotan kamera televisi sering tampak
anggota dewan lebih asyik berbincang dan bercanda ria dengan kolega daripada
berkerut dahi memikirkan nasib masyarakat yang dulu turut menggiring nama
mereka menuju ke gedung telur belah itu.
Dewi Fortuna
boleh saja prihatin dengan keadaan yang demikian, tetapi sementara ini sangat
sulit untuk membendung euphoria HP.
Jangankan penggunaan HP di tempat umum seperti yang sering membuat
beliau gerah, di ruang belajar dan sidang saja keadaan ini masih terus
berlangsung. Bukan hanya peserta yang
masih bisa mejeng, mereka yang duduk di depan pun tidak ketinggalan, bahkan
tidak jarang pembicara harus menghentikan materi yang disampaikan untuk
meladeni ajakan ber-HP-ria dulu.
Etika ber-HP-ria
memang belum ada, apalagi kalau harus menunggu dalam bentuk aturan
tertulis. Namun sudah bisa dimulai dari
sekarang, menanamkannya dalam diri sehingga generasi baru tidak mencontek
mati. Para pejabat, dosen, guru,
penceramah dan seperannya merupakan orang pertama yang harus melakukan dan
menjadi teladan bagi masyarakat tut wuri handayani.
Bila keadaan ini
terus berjalan, tentu kita akan berhadapan dengan masyarakat yang menganggap
sopan-santun dan tata-krama sebagai benda kuno yang harus dibuang jauh. Entah sampai kapan keadaan ini akan
terus berlangsung, setidaknya harus berubah sebelum Universitas HP meluluskan
para intelektual Hampa Pekerti.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar