Di tengah isyu
El-Nino yang berkembang sekarang, hujan turun terkadang kelewat deras. Untuk kesekian kali, isyu sentral yang
dihembuskan BMG dan semua sudut pelayanan masyarakat itu seakan hanya barang
bualan belaka.
Sebagai bagian
dari negeri agraris ini, beberapa lokasi di Kabupaten Indramayu memang gagal
panen, hamparan sawah yang membentang di Kecamatan Kroya, Bongas dan Gabuswetan
diratapi pemiliknya. Sementara padi
sawah di sepanjang jalan nasional menjelang Celeng sempat merintih kesakitan
sehingga daunnya menguning sebelum berbulir, beruntunglah air segera mengguyur
menjadi obat lara. Sedangkan petani di
Kecamatan Kandanghaur bersorak sorai melawan anjuran pemerintah, meneruskan
menanjapkan benih padinya yang sudah berumur 3 minggu. Petani di Kecamatan Haurgeulis justeru bangga
menikmati kekeringan, saat isyu itu diramalkan terjadi padi di sawah mereka
sedang menuju pengerigan bulir yang lebih baik tanpa kucuran hujan.
Satu hal yang sama dirasakan oleh petani
Indramayu sekarang adalah rendahnya harga gabah ! Ketika masyarakat Haurgeulis memetik padi dua
bulan lalu, tengkulak langsung menawar gabah dari sawah mereka Rp.
150.000,-/kwintal. Ironisnya sejalan
dengan makin banyaknya daerah yang mengalami gagal panen maka harga gabah
kering giling terpeleset sampai menyentuh Rp. 1000,-/kg.
Secara hukum pasar bersaing sempurna,
keterbatasan supply akan memperkuat posisi tawar produk. Namun tidak demikian dengan gabah petani,
karena di dalamnya bercokol berbagai kepentingan yang menyebabkan terjadinya
pasar persaingan sempurna semu.
Seperti diketahui bahwa pemerintah telah
membiarkan harga gabah sesuai dengan harga di pasaran sekalipun di balik itu
ditetapkan juga harga minimal dan maksimal.
Namun patokan yang sudah sering berubah dan dibuat terus menerus itu
bukan menjadi kendala bagi petani karena pemerintah hanya bisa mematok harga
tetapi tidak dapat menentukan harga.
Harga gabah petani dari tahun ke tahun ditentukan tengkulak yang secara
langsung bisa menolong mereka dibanding koperasi dan Dolog ataupun jajaran
pemerintah umumnya.
Di saat harga sangat rendah seperti sekarang
ini saja, hanya tengkulak yang dapat membantu mereka. Soko guru ekonomi tidak berkutik kecuali
menggurui dan kalangan pemerintah hanya sebatas cuap-cuap bela diri dan
menyalahkan petani. Sedangkan Dolog
bertindak dolog dengan mendatangkan beras impor !
Tindakan terakhir itulah yang menyebabkan
penderitaan petani sampai ke akar penderitaan saat ini. Ketika bulir padi kebanyakan tidak terisi,
dipanen dengan ongkor bayar sangat tinggi dan menatap ke belakang, betapa sudah
banyaknya biaya produksi untuk pupuk dan insektisida yang sudah dibuang. Harga gabah pun anjlok tanpa ampun !
Walaupun banyak yang meragukan, hanya pengamat
pertanian yang tidak tahu kondisi lokal saja yang mengatakan bahwa petani kita
tidak efisien sehingga harus mengelola lebih efisien dengan mesin-mesin dan
teknologi modern. Mereka bercermin dari
petani Paman Sam tempat mereka menimba ilmu, ahli pertanian itu bercermin pada
Vietnam yang luasan lahan pertanian petaninya 20 kali lebih luas dari petani
Indonesia, yang lain mengacu kepada China yang petaninya menikmati harga pupuk
dan insektisida dari pasar internasional yang tentu saja murah meriah.
Para pejabat pertanian negeri ini baru bisa menina-bobokan
petani dengan subsidi pupuk, insektisida dan saprotan lain. Semuanya hanya sumbangan semu dan sama sekali
tidak mendidik petani atau bahkan menjadikan petani sebagai tumbal keuntungan
pihak lain termasuk aparat pemerintah itu sendiri.
Bertahun-tahun petani menjadi penikmat subsidi
yang ditipu dengan pupuk dan insektisida palsu serta saprotan yang tidak
bermutu. Sehingga saat ini penggunaan
pupuk dan insektisida sudah menyentuh kadar yang membahayakan (bila kandungan
bahan aktifnya sesuai dengan yang tertera di kemasan), sementara pembaharuan
peralatan mesin pun sudah menjadi latah.
Jadi penikmat keuntungan subsidi itu siapa
? Sama sekali bukan petani.
Itulah sebabnya, lebih baik budaya subsidi yang
menyebabkan kehidupan petani menjadi alam semu ini segera dihapuskan. Tidak perlu diganti dengan sistem Direct
Payment to The Farmers seperti yang dilakukan oleh Malaysia, apalagi
pengerukan hasil produksi oleh Dolog seperti yang dilakukan Amerika untuk
mestabilkan harga bahan pangan mereka atau bahkan menjiplak teknologinya yang
sudah pasti tidak pas, tetapi jaga jarak
dengan pasar beras internasional seperti yang dilakukan Negeri sakura.
Biarka petani menikmati harga insektisida dan
pupuk internasional serta mesin-mesin sederhana yang berkualitas dibiarkan
masuk negeri ini. PT Pusri dan PT Pupuk
Kujang tidak melakukan dumping, bahan-bahan kimia dan alat-alat
pertanian bea masuknya diturunkan. Tanpa
subsidi seperti yang selama ini dilakukan sekalipun, maka petani Indonesia akan
mampu mengahasilkan beras yang bisa bersaing dengan sampah-sampahnya depot
logistik Amerika, China ataupun Vietnam.
Sekali alagi, stop subsidi ! Bila pemerintah masih menjadikan petani
sebagai sumber pendapatan dan menjadi pasar terbesar penjualan saprotan yang
bisa diharapkan maka sekalipun dengan harga pupuk dan insektisida yang
melambung tinggi, petani akan bisa menikmati kehidupannya secara maksimal
apabila beras-beras pasar internasional itu tidak dibiarkan masuk.
Kalau keadaan seperti sekarang, petani hanya
akan menjadi pahlawan bagi mereka yang mengambil keuntungan sementara mereka
terus tiarap dalam himpitan penderitaan.
Kehidupan petani akan terus ringsek dan tidak akan berubah
sekalipun jutaan rangkaian bunga menyambutnya sebagai “Pahlawan Pangan”.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar