Senin, 08 September 2014

MIRASGATEL-MIRASGAET-MIRASGATE




Perang terhadap minuman keras juga terjadi di Indramayu seperti halnya daerah lain.   Di wilayah paling barat, ribuan miras sitaan Polsek Haurgeulis dihancurkan.  Demikian juga di tingkatan polsek kecamatan yang lain, aksi serupa bukan hal yang baru.

Tetapi ceritanya menjadi lain ketika dua bak truk besar miras sitaan diamankan di ingkungan Kantor Bupati, tepatnya di gudang bekas kantor Bagian Perlengkapan.  Pada kawasan yang 24 jam dijaga ketat Satpol PP ini, sekitar 5.000 dus berisi 50.000 botol miras lenyap tanpa krana.  Padahal upacara pemusnahan tumpukan botol miras itu rencananya akan dilaksanakan oktober lalu, langsung dipimpin Bupati.

Selidik punya selidik, ternyata timbunan botol itu membuat gatel oknum yang mesti menjaganya akibat alergi Mirasgatel.  Satu dua kali garukan belum terasa dampaknya.  Dengan dukungan seorang oknum pejabat, bakat Mirasgaet-nya pun tumbuh dan berkembang, satu demi satu dus digaet sampai ludes.

Media lokal membombardir kasus ini dengan berbagai pemberitaanya sehingga masyarakat Indramayu menjadi akrab dengan kata Mirasgate.

Hasilnya tidak sia-sia, Bupati Indramayu H. Irianto M. S. menepati janjinya.  Setelah melalui proses yang cukup lama, palu diketuk.  Oknum Satpol PP yang berstatus sukwan dipecat, Kasubag Ratel yang menggoda mereka dicopot jabatannya, ada juga yang ditunda kenaikan pangkatnya satu tahun dan teguran tertulis disampaikan kepada pejabat yang berkaitan sampai dengan level Asisten I.

Penyitaan miras memang selalu identik dengan menghilangnya botol itu dari peredaran yang berbanding terbalik dengan membludaknya permintaan sering menyebabkan alergi Mirasgatel.  Kalau sudah terkena penyakit ini orang-baik-baik pun akan kejangkitan Mirasgaet.  Masih akan ada hasilnya kalau akhirnya berkembang menjadi Mirasgate.  Kalau tidak, nasibnya akan lama terkatung-katung seperti Bulogate.

Bahasa Asing



 
Walaupun Indramayu secara administratif berada di wilayah Jawa Barat yang selalu identik dengan budaya Sunda, namun sebagian terbesar masyarakatnya berbahasa Jawa.
Dengan berlakunya Perda Propinsi Jawa Barat No. 6 Tahun 1996 yang menjadikan Basa Sunda sebagai pelajaran wajib muatan lokal maka jadilah anak-anak SD di Indramayu mengenal bahasa asing sejak dini.  Palajar SMP/MTs dan SMA/SMK/MA harus melahapnya bersamaan Bahasa Inggeris atau Bahasa Arab sekaligus.  Bahasa asing dimaksud tidak lain adalah bahasa yang paling dekat dengan masyarakat Jawa Barat, yaitu Basa Sunda.
Lucunya Basa Sunda bukan hanya asing bagi siswa yang lahir dan besar dalam budaya Jawa totok tetapi juga para guru yang kebanyakan berasal dari Jawa Tengah dan Yogyakarta atau bahkan guru senior dari daerah Pasundan sendiri seperti Ciamis, Bandung, Majalengka dan Kuningan.  Apalagi bagi masyarakat yang jadi tumpuan bertanya anak-anaknya.  Jadilah Basa Sunda bahasa asing untuk semua.
Tidak heran kalau pembelajaran Basa Sunda di Indramayu gagal total, kecuali berhasil membentuk image bahwa Bahasa Jawa Indramayu sangat kasar !  Anak-anak Indramayu sekarang hanya bisa Jawa Ngoko, tidak bisa mengerti ketika mendengar orang-orang tua Bebasan (bertegur sapa dengan Jawa Krama).  Padahal dulu, bahasa jenis ini yang dibekalkan kepada para siswa.
Saking asingnya Basa Sunda bagi masyarakat Indramayu, pengamat budaya Hendro pernah menulis pada Dwimingguan lokal Dermayon, “Salah satu peristiwa cukup menggelikan di sebuah SD ketika diselenggarakan TPB akhir caturwulan.  Murid-murid kelas VI SD tersebut menerima lembar naskah soal Bahasa Daerah Sunda dengan perintah, “Eusian titik-titik dihadapan ieu !”  yang jumlahnya 10 soal.  Tetapi yang terjadi kemudian membuat guru bersangkutan kebingungan, pasalnya bagaimana guru akan memberikan nilai atas pekerjaan siswanya, apabila dari kesepuluh soal tersebut hanya diisi dengan titik-titik (…) belaka.”
Setelah kebijakan itu berlangsung beberapa tahun dan dinilai gagal total maka kebijakanpun berganti.  Kali ini anak-anak sekolah mulai belajar Basa Indramayu yang sebenarnya.  Ada jawa ngoko, diberi juga bebasan (bahasa halus) dan cara menulis aksara jawa (ana-caraka).
Sekalipun Basa Indramayu merupakan bahasa ibu sebagian besar masyarakat Indramayu tetapi bukan berarti tidak menghadapi kendala.  Para siswa yang tiba-tiba harus berhadapan dengan bahasa asing baru yang harus dipelajarinya. 

Penjaja Ganja



Bagi yang pernah melintasi Lembah Anai dari Kota Padangpanjang ke wilayah Tanah Datar dan beberapa meter kemudian masuk Kabupaten Padang Pariaman, tentu pernah mengetahui bahwa di sana banyak penjaja ganja berkeliaran.  Anak-anak muda usia sekolah mengisi kocek dari profesi itu.  Polisi ?  Dari posnya yang tidak jauh dari lokasi transaksi mereka berlega hati, keberadaan mereka sangat menguntungkan.

Lain di Sumatera Barat, beda pula di Jawa Barat.  War, penduduk Kampung Cidadap Desa dan Kecamatan Cikedung Kabupaten Indramayu ini harus menginap di balik jeruji besi gara-gara bermimpi kaya menjadi penjaja ganja.

Pemuda lajang yang dimabuk mimpi dalam pelaminan indah itu tidak dapat mengelak.  Dedaunan tajam ilalang di tengah hutan Cikamurang menjadi saksi, ratusan batang perdu berjari lima pun sebagai barang bukti.  Ancaman hukuman berat menanti War !

Sebenarnya polisi Sumatera Barat juga tidak kalah galak terhadap penjaja ganja seperti War.  Kebun ganja yang pernah tersembunyi di tengah hutan perawan Pasaman pun pernah diobrak-abrik. 

Sedangkan anak muda penjaja ganja yang biasa di dekat markas polisi Lembah Anai itu tetap aman-aman saja beroperasi di jalan berkelok tajam dan curam karena jasanya yang sangat besar membantu kelancaran lalu lintas.  “Ganja !”  merupakan lafal kata “ganjal” dalam lidah masyarakat Minangkabau yang sering korupsi huruf di akhir kata.

Kembali kepada War dengan kebun ganjanya di Cikamurang yang sedang ketiban sial.  Saat ini dia harus mempertanggungjawabkan upaya nyupang modernnya sendirian, ayah dan kakak kandung serta Ras sahabatnya hanyalah kecipratan.

Rasanya sulit dipercaya kalau War menjalankan usahanya ini sendirian, keculunannya tidaklah seimbang dengan teknik budidaya modern yang diterapkan.  Pengaturan pola tanam, sekalipun sangat mudah diterapkan, perlu pengalaman panjang.  Sedangkan War baru memulai menebar tiga biji kecil itu dua tahun lalu.

Adakah peran aktor intelektual di balik keahlian War ?

Faktor kedua yang patut dipertanyakan adalah, “Sudah seberapa kaya sih, War ?”  Secara logika, dengan ratusan helai daun bisa ribuan linting dibuat dan jutaan perak diperoleh.  Kalau War adalah pemain tunggal, mulai dari budidaya, produksi lintingan sampai distribusi pemasaran maka usaha ilegal yang dijalankan selama dua tahun ini bisa sejajar dengan teman sedesanya yang menjual diri ke Arab Saudi.

Upaya penyelidikan hendaknya tidak berhenti sampai disitu.  Pengguna pun sudah saatnya diciduk karena suatu saat akan dapat menularkan pengalaman indahnya kepada rekan atau bahkan menjadi pemasok untuk mabok.

Pertanyaan yang juga mengganjal adalah, “Mengapa War aman-aman saja berladang ganja di sana?”  Sejak tahun 1999 lho !

Tanpa prasangka buruk kepada pihak manapun, maka sangat mustahil kalau kerimbunan ilalang yang selalu ditunggu pemilik lahannya itu tidak mencurigakan.  Ada tetangga pengolah lahan yang setiap saat seharusnya heran, polisi dan petugas kehutahan yang terikat tugasnya di tengah hutan, para pekerja pabrik kayu putih yang sering menjalankan pemanenan di dekat lokasi.   

Rasa-rasanya mustahil kalau ladang War terus tertutupi sekalipun berselimut tarian daun ilalang.

Pertanyaan terakhir yang juga harus dijawab adalah, “Mengapa sampai        terungkap ?”  Pertanyaan ini sering menyebabkan orang tidak mau melaporkan tindak kejahatan yang disaksikan kepda Polisi.  Takut ketiban apes, malah menjadi tersangka.  Namun untuk bisnis ilegal, pertanyaan seperti ini harus dijawab dengan tuntas.

Menjadikan War sebagai tumpuan kesalahan tanpa penyelidikan ikutannya adalah kesalahan kwadrat.  Puluhan pemuda tani lugu sekelas War di Cidadap, petani miskin seperti War berbilang ratus dalam wilayah Kecamatan Cikedung yang sangat luas itu, dan di Indramayu yang kaya raya ini masih ribuan pemuda seusia War yang dari lahir hingga sekarang belum pernah menyentuh garis standar hidup sejahtera yang paling rendah sekalipun.

Terungkapnya War sebagai penjaja ganja adalah awal dari kewajiban petugas untuk mengungkap secara tuntas.  Apalagi sebagai akhir, kecuali kalau hanya sekedar harus berakhir.

Meringkuknya War di penjara ternyata masih dipandang sebelah mata oleh oknum generasi muda yang suka merem-melek, apalagi ada anggapan bahwa berlama-lama atau bahkan makin nyungsebnya War di Hotel Prodeo adalah akibat Soekarno dan Hatta tidak ikut memproklamirkan kemerdekaannya.

Tidak heran kalau kemudian, ketika Polres Indramayu memperketat peredaran barang-barang pembuat-pembual maka tertangkap anak seorang Kapten.  Berbagai kemampuan, mulai mengandalkan baju dinas sampai kemampuan menghadirkan almarhum proklamator digunakan demi   kebebasan. 

Ringsek (2)



Di tengah isyu El-Nino yang berkembang sekarang, hujan turun terkadang kelewat deras.  Untuk kesekian kali, isyu sentral yang dihembuskan BMG dan semua sudut pelayanan masyarakat itu seakan hanya barang bualan belaka.

Sebagai bagian dari negeri agraris ini, beberapa lokasi di Kabupaten Indramayu memang gagal panen, hamparan sawah yang membentang di Kecamatan Kroya, Bongas dan Gabuswetan diratapi pemiliknya.  Sementara padi sawah di sepanjang jalan nasional menjelang Celeng sempat merintih kesakitan sehingga daunnya menguning sebelum berbulir, beruntunglah air segera mengguyur menjadi obat lara.  Sedangkan petani di Kecamatan Kandanghaur bersorak sorai melawan anjuran pemerintah, meneruskan menanjapkan benih padinya yang sudah berumur 3 minggu.  Petani di Kecamatan Haurgeulis justeru bangga menikmati kekeringan, saat isyu itu diramalkan terjadi padi di sawah mereka sedang menuju pengerigan bulir yang lebih baik tanpa kucuran hujan.

Satu hal yang sama dirasakan oleh petani Indramayu sekarang adalah rendahnya harga gabah !  Ketika masyarakat Haurgeulis memetik padi dua bulan lalu, tengkulak langsung menawar gabah dari sawah mereka Rp. 150.000,-/kwintal.  Ironisnya sejalan dengan makin banyaknya daerah yang mengalami gagal panen maka harga gabah kering giling terpeleset sampai menyentuh Rp. 1000,-/kg.

Secara hukum pasar bersaing sempurna, keterbatasan supply akan memperkuat posisi tawar produk.  Namun tidak demikian dengan gabah petani, karena di dalamnya bercokol berbagai kepentingan yang menyebabkan terjadinya pasar persaingan sempurna semu.

Seperti diketahui bahwa pemerintah telah membiarkan harga gabah sesuai dengan harga di pasaran sekalipun di balik itu ditetapkan juga harga minimal dan maksimal.  Namun patokan yang sudah sering berubah dan dibuat terus menerus itu bukan menjadi kendala bagi petani karena pemerintah hanya bisa mematok harga tetapi tidak dapat menentukan harga.  Harga gabah petani dari tahun ke tahun ditentukan tengkulak yang secara langsung bisa menolong mereka dibanding koperasi dan Dolog ataupun jajaran pemerintah umumnya.

Di saat harga sangat rendah seperti sekarang ini saja, hanya tengkulak yang dapat membantu mereka.  Soko guru ekonomi tidak berkutik kecuali menggurui dan kalangan pemerintah hanya sebatas cuap-cuap bela diri dan menyalahkan petani.  Sedangkan Dolog bertindak dolog dengan mendatangkan beras impor !

Tindakan terakhir itulah yang menyebabkan penderitaan petani sampai ke akar penderitaan saat ini.  Ketika bulir padi kebanyakan tidak terisi, dipanen dengan ongkor bayar sangat tinggi dan menatap ke belakang, betapa sudah banyaknya biaya produksi untuk pupuk dan insektisida yang sudah dibuang.  Harga gabah pun anjlok tanpa ampun !

Walaupun banyak yang meragukan, hanya pengamat pertanian yang tidak tahu kondisi lokal saja yang mengatakan bahwa petani kita tidak efisien sehingga harus mengelola lebih efisien dengan mesin-mesin dan teknologi modern.  Mereka bercermin dari petani Paman Sam tempat mereka menimba ilmu, ahli pertanian itu bercermin pada Vietnam yang luasan lahan pertanian petaninya 20 kali lebih luas dari petani Indonesia, yang lain mengacu kepada China yang petaninya menikmati harga pupuk dan insektisida dari pasar internasional yang tentu saja murah meriah.

Para pejabat pertanian negeri ini baru bisa menina-bobokan petani dengan subsidi pupuk, insektisida dan saprotan lain.  Semuanya hanya sumbangan semu dan sama sekali tidak mendidik petani atau bahkan menjadikan petani sebagai tumbal keuntungan pihak lain termasuk aparat pemerintah itu sendiri.

Bertahun-tahun petani menjadi penikmat subsidi yang ditipu dengan pupuk dan insektisida palsu serta saprotan yang tidak bermutu.  Sehingga saat ini penggunaan pupuk dan insektisida sudah menyentuh kadar yang membahayakan (bila kandungan bahan aktifnya sesuai dengan yang tertera di kemasan), sementara pembaharuan peralatan mesin pun sudah menjadi latah.

Jadi penikmat keuntungan subsidi itu siapa ?  Sama sekali bukan petani.

Itulah sebabnya, lebih baik budaya subsidi yang menyebabkan kehidupan petani menjadi alam semu ini segera dihapuskan.  Tidak perlu diganti dengan sistem Direct Payment to The Farmers seperti yang dilakukan oleh Malaysia, apalagi pengerukan hasil produksi oleh Dolog seperti yang dilakukan Amerika untuk mestabilkan harga bahan pangan mereka atau bahkan menjiplak teknologinya yang sudah pasti tidak pas,  tetapi jaga jarak dengan pasar beras internasional seperti yang dilakukan Negeri sakura.

Biarka petani menikmati harga insektisida dan pupuk internasional serta mesin-mesin sederhana yang berkualitas dibiarkan masuk negeri ini.  PT Pusri dan PT Pupuk Kujang tidak melakukan dumping, bahan-bahan kimia dan alat-alat pertanian bea masuknya diturunkan.  Tanpa subsidi seperti yang selama ini dilakukan sekalipun, maka petani Indonesia akan mampu mengahasilkan beras yang bisa bersaing dengan sampah-sampahnya depot logistik Amerika, China ataupun Vietnam.

Sekali alagi, stop subsidi !  Bila pemerintah masih menjadikan petani sebagai sumber pendapatan dan menjadi pasar terbesar penjualan saprotan yang bisa diharapkan maka sekalipun dengan harga pupuk dan insektisida yang melambung tinggi, petani akan bisa menikmati kehidupannya secara maksimal apabila beras-beras pasar internasional itu tidak dibiarkan masuk.

Kalau keadaan seperti sekarang, petani hanya akan menjadi pahlawan bagi mereka yang mengambil keuntungan sementara mereka terus tiarap dalam himpitan penderitaan.  Kehidupan petani akan terus ringsek dan tidak akan berubah sekalipun jutaan rangkaian bunga menyambutnya sebagai “Pahlawan Pangan”.

Ringsek (1)



Sesuai dengan kondisi geografisnya maka kelangsungan hidup petani Indonesia sangat tergantung pada harga hasil panen padi yang ditanamnya.  Di sisi lain, sebagai bagian dari maraknya era perdagangan bebas, kelanjutan riwayat hidup sebagian besar warganya pun dipertaruhkan untuk bersaing dengan produk impor yang murah meriah.

Saking murahnya, jangankan dengan bea masuk nol prosen seperti dikehendaki para bule, dengan bea masuk sebesar harga dasar berasnya pun akan tetap masih di bawah harga beras lokal.  Namun kebijakan inilah yang harus ditempuh selama ini, membiarkan negara yang sempat melejit swasembada pangan ini sebagai pasar beras internasional.

Hal ini tidak lepas dari saran dan pendapat para ahli ekonomi bergelar jongos-jongos IMF yang lebih memilih menjerumuskan petani ke jurang kehancuran daripada uluran dana tidak masuk ke dalam negeri dan tentu saja merembes ke kepentingan pribadi.  Para petani memang tidak dapat berbuat untuk apa-apa, kecuali satu hal, memantapkan mereka sebagai ahli ekonomi dengan berbagai ulasan dan tulisannya.

Tidak terbetik di alam pikiran mereka kalau untuk memaksimalkan potensi genetik benih-benih IRRI diperlukan kondisi yang seimbang antara unsur nitrogen, phospor dan kalium serta unsur-unsur mikro yang sangat terbatas ketersediaanya.  Belum lagi kerentanan terhadap hama penyakit yang berbanding lurus dengan keperluan insektisida.

Berbeda dengan kebijakan yang membebaskan masuknya beras impor sisa penduduk belahan dunia lain, maka baik pupuk ataupun bahan kimia sebagai bahan dasar insektisida dari pasar internasional dikenakan bea masuk yang sangat tinggi atau bahkan proteksi.  Pupuk yang beredar di pasar internasional yang harganya tentu saja sangat murah tidak diperkenankan masuk karena dianggap dapat membunuh industri pupuk dalam negeri yang tidak lain monopoli pihak tertentu. 

Sungguh keduanya merupakan kutub yang saling bertolakbelakang, satu sisi menghancurkan harapan hidup petani dan kutub yang lain memberi kesempatan kepada mereka untuk mati perlahan-lahan.  Keduanya bak Kutub Utara dan Kutub Selatan yang tidak pernah ramah kepada kehidupan.  Ironisnya, petani berada di tengah kutub yang bertabrakan.  Ringsek ! 

Bukan hanya yang luluh lantak oleh kedua kebijakan itu, niat baik pemerintah menelorkan Inpres tentang Harga Dasar Gabah untuk menolong petani tidak pernah berhasil, kecuali ikut-ikutan ringsek menjadi makina, “Dasar Harga Gabah !”

Sangat naif kalau subsidi dan sebangsanya dijadikan alat untuk meredam kerugian petani.  Fasilitas itu mungkin saja dapat dinikmati penerimanya, sekaligus menetapkan bahwa kerja keras petani hanyalahi keberhasilan semu.  Soal fasilitas ini akan nyangkol dimana, sudah bukan rahasia lagi karena sudah sekian lama kebiasaan itu terjadi.

Niat baik pemerintah pusat seperti itu bukanlah penyelesaian masalah tetapi pemecahan masalah yang ampuh sehingga sebuah permasalahan hancur berkeping-keping dan sejalan dengan waktu masalah itu tumbuh subur dan bahkan menjadi lebih besar daripada masalah semula.

Beri kesempatan petani bernafas lega menikmati harga melambung dimusim paceklik untuk mengimbangi melorotnya harga gabah pada panen raya.  Bukan membuka kran impor secara bebas dengan dalih mengatasi kekurangan pangan yang tidak pernah hilang kecuali sembunyi dalam gudang.

Selain itu, imbangi kebebasan sisa-sisa penghuni dolog internasional masuk negeri ini dengan ketakterbatasan serbuan pupuk dan insektisida pasar internasional sehingga petani dapat merangkak untuk menghasilkan gabah dengan harga jauh lebih murah.

Patutkah keefisienan para petani diragukan seperti pendapat pengamat ekonomi pertanian UGM, Dibyo Prabowo (Kompas, 18 Oktober 2001).  Sama sekali tidak, petani Indonesia sudah sangat efisien dalam berproduksi.  Kalau tidak efisien, semangat bertani mereka sudah ringsek akibat hasil produksinya disamakan dengan barang buangan dolog-nya Amerika, Thailand, Malaysia, Jepang, Vietnam dan lain-lain yang selalu berusaha agar harga beras di dalam negerinya tetap tinggi dan para petani tidak tersentuh kata rugi, apalagi ringsek.